Al-Qur’an Sesuai Dengan Kebutuhan Manusia Al-Qur'an terungkap/ mucul di sebuah negara yang didirikan berdasarkan beban Jahiliyah. Kejahiliyaan tersebut telah mengajarkan penyimpangan dan perundang-undangan yang salah arah dan bermoral rendah, sedangkan masyarakatnya berasal dari wilayah yang terpisah yang tidak memperhatikan kebajikan untuk menyatukan barisan mereka maupun mengikat kepentingan ekonomi mereka, melainkan mewariskan kebencian dan permusuhan mereka sendiri untuk memicu perang, selain itu mereka juga menganiaya hak wanita demi kepuasan sesaat, orang-orang bebas mencuri tanpa hak, pikiran mereka terkendali, bahkan membatasi ide-ide mereka. Harapan terdahulu yaitu untuk menemukan unsur dan alasan kehancuran dan kehilangan dari hubungan suatu bangsa dimanapun bangsa terguncang di bawahnya dan mengejar pendekatan tersebut untuk berhasil, sebaliknya, masing-masing dan setiap alasan ini saja sudah cukup untuk hilangnya bangsa, jika demikian bagaimana jika semua berjuang untuk suatu tujuan dan untuk mengumpulkan kebijaksanaan Allah dalam semua alasan kaumnya. Maka untuk mengajarkan kepada seluruh manusia, bahwa Al-Qur’an ketika mengangkat bangsa ini dengan alasan tersebut adalah untuk menyelamatkan orang lain, dan saya menghargai jika kebodohan dihapus menjadi contoh agama Islam yang sempurna!!. Pada masa jahiliyah orang-orang menyembah berhala dan mereka menyembah untuk sebuah kurma dan kemudian mereka memakannya, jika padang gurun memilih untuk menempatkan empat batu maka tiga darinya ditempatkan sebagai kekuatan/kekuasannya, dan mengmbil yang keempat sebagai Tuhan. Mereka memberikan urusan dan kehidupannya untuk berhala yang tidak merugikan ataupun menguntungkan mereka, dan semua itu adalah suatu kebodohan. Masyarakat didasarkan pada perbedaan dalam berpihak dan bersosial, diferensiasi (perbedaan) di antara mereka berdasarkan silsilah keturunan, maka para penyair menyindir suku-suku yang tidak adil sehingga orang-orang menundukkan kepala mereka dengan rasa malu yang kemudian terjadi balas dendam diantara penyair dan sukunya ... hal Ini adalah suatu kebodohan. Bukankah kemudian diantara mereka politik dalam negeri berdasarkan keadilan dan kesetaraan yang benar, mempertimbangkan kebajikan dan menghindari kejahatan, dan bukan pula kebijakan luar negeri menghubungkan mereka ke negara tetangga dan menjaga hak-hak warga negara disana, akan tetapi pemimpin mereka pergi ke negara tetangga yang kemudian masuk ke tempat rajanya, seperti saat mereka memasuki orang lain. Kepentingan ekonomi tidak mengikat mereka, hanya saja mereka memakan riba dua kali lipat, yang kuat memakan yang lemah. seluruh ekonomi mereka menuju ke Syam (Levant) ketika musim panas dan menuju ke Yaman ketika musim dingin, perekonomian merekapun tidak berkembang, dan tidak ada seorangpun yang berpikir untuk bercocok tanam dan berindustri, ini adalah kebodohan. Seorang perempuan tahu apa yang dibeli, dijual, dan apa yng disumbangkan, bakan apa yang diwariskan seperti mewarisi binatang ternak, yang tidak memiliki hak untuk mengetahui dan tidak menghormati pemikirannya... ini adalah kebodohan. Pukulan itu untuk menyalakan di antara mereka tentang hal-hal yang kecil, akan tetapi peperangan tidak padam selama berabad-abad. Al-Quran diturunkan ketika mereka dalam kebodohan, kemudian datang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perbaiki akidah dengan tauhid, mengingat prinsip dan kebangkitan, memperbaiki ibadah mereka dengan petunjuk yang menggerakkan jiwa dan membersihkan hati, dan memperbaiki moralitas (perilaku) antara kebajikan dan keburukannya yang terungkap, dan memperingatkan masyarakat untuk menghilangkan perbedaan sosial, manuntun mereka dalam ketakwaan (tidak ada kebajikan/keutamaan bagi orang Arab ketika dicoba/diuji kecuali dengan takwa) dan memperbaiki kebijakan negara dalam pemerintahan Islam yang adil, dan juga pembentukan hubungan politik melestarikan hak-hak mereka di luar negeri. Dengan memperbaiki keungan dan perekonomian maka diperintahkan untuk mengeluarkan zakat dan amal, dan dilarang melakukan riba, dan mendorong pada pertanian, industri, profesi, pekerjaan, produksi, dan waspada terhadap pengangguran. Dan memberikan hak kepada mereka (perempuan) dalam keuangan, pembelian, penjualan, pemilihan pasangan, warisan, dan sebagainya. Sehingga kedudukannya tidak seperti yang diberikan di seluruh masyarakat dan seluruh agama. Dengan perkembangan kondisi perang dan prinsip-prinsip yang luas beserta tujuannya, maka diperintahkan untuk memenuhi perjanjian yang memberikan dampak perdamaian, dan memberikan penghargaan sebagai upaya pencegahan, memerintahkan orang yang keras kepala untuk berjihad (berusaha), bagi kaum Muslim diperbolehkan mengambil harta dan barang rampasan, dan menyerukan untuk membebaskan budak dan membuat kafarat untuk sumpahnya, dan mendesak budak untuk membebaskan dan memperingatkan mereka dari ketidakadilan, penindasan dan perbudakan secara tidak adil. Puncak dari hal ini datang dari sebuah kebebasan. Yang mana kebebasan yang sebenarnya tidak dipahami oleh sebagian orang karena mereka bebas menghadapi peraturan-peraturan untuk keselamatan mereka sendiri dan bebas dalam memenuhi keputusan Tuhan dan keputusan masyarakat, didalam agama (Islam) juga melarang umatnya melakukan kekerasan, sehingga Rasul diutus untuk memberi peringatan, seperti yang telah di jelaskan dalam Al-Qur’an: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan, kamu bukanlah orang yang kuasa atas mereka”. {Al-Gasyiyah:21-22} Ketika orang-orang berkomitmen dengan suatu prinsip maka komunitas mereka berubah menjadi lebih baik dari pada abad-abad sebelumnya seperti dalam sekejab mata mereka menjadi generasi yang terbaik, dan itu semua hanya kerena untuk menyesuaikan masyarakat mereka. Komunitas sebelum dan sesudahnya masih didirikan berdasarkan beban ketidaktauhan mereka, dan mereka menderita dengan adanya bencana ini, sehingga komunitas mereka menderita pula dengan adanya penyebaran kejahatan, penyebaran alkohol, narkoba, perzinahan yang merajalela dan kerusakan-kerusakan moral, dan menderita golongan neurologis, pemisahan politik, masalah ribah dan ekonomi, penganiayaan hak perempuan, dan menyebarnya penjualan anak, budak, dan masyarakat menderita karena peperangan dan terbelenggu dalam pembatasan negara dan mereka juga di penjara tanpa alasan tetapi untuk memaksa mereka untuk mengatakan apa yang harus mereka katakan. Negara-negara kuat telah mencoba menyeimbangkan kekuatan fisik untuk menghilangkan masalah antara satu sama lain, dan menghabiskan jutaan untuk mengobati kelemahan satu sama lain. Mereka masih berebut dalam undang-undang dan kemudian mereka mulai kembali dan menuntut kembali apa yang mereka ketahui dari sebuah kebenaran. Dan penderitaan dunia adalah didalam perekonomian, dari masalah kaya dan miskin, bukanlah orang kaya yang dapat menentukan rencananya ketika kotanya mengalami kebangkrutan, dan bukanlah orang miskin yang mampu membayar utangnya, bahkan dia kelelahan dan kelaparan sehingga tidak mampu untuk mengangkat tangannya. Semua ini sudah ditangani oleh Al-Qur’an jika mereka mengetahui. Dibahas dalam masyarakat sebelum Islam dalam perkumpulan/himpunan untuk mengobati sikap permusuhan seseorang yang lebih mampu. Dalam bukti terbesar, terkuat, dan bukti yang jelas bawah Al-Qur’an memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, jika mereka mengerti.

إستخدام بيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى الإسلام السلفى مالانج بحث الجامعى للوصول على درجة سرجانا فى تعليم اللغة العربية كلية الإنسان والثقافة جامعة مولانامالك إبراهيم الإسلامية الحكومية مالانج 2012 أبريل الفصل الأول أساسيات البحث ومنهجية 1-المبحث الأول أ-مقدمة المعهد هو أحد من مكان المجتمعة المعتجبة و له نظام الحياة الإيجابى. قال مشهود (2003:1) المعهد هو مكان التعليم في الإسلام الذي يبدأ في قرن 13 حتى الآن ويعرف بقرن عصري (ميلينيوم) إنتشر المعهد إنتشارا كثيرا في كل شكل و خصوصيته الذي جرى على وقت وساعة معيا. أحد من معهد مفتاح الهدى الذي أعرف بمعهد "غادنج" لأنه يقع في قرية غادنج كسري بشارع بيسنترين 38 مالانج. في اوّل مرة يضم معهد مفتاج الهدى على ثمانية مساكن وفي كل مساكن لهم الأسماء المتعجبة ؄أنها تستعمل أسماء الأولياء ( (wali songoبمرور وقت إلى وقت باإنتشار العولمة في كل مجال الحياة بني المسكن مرة واحدة الذي يخصص على الطلاب لتنمية اللغة الغربية "إيجليسية و عربية" وثبت على إعتقاد المحافظة على قديم الصالح والأخذ باالجديد الأصلة. كفا بني هذا المسكن يصيب على بجملة تسعة مساكن يناسب على أسماء المجتمعة wali songo . قيم وصيح المشايخ هذا المسكن في تارخ 1 يولي 2006 باسم مسكن اللغة سونان دراجة. قيم هذا المسكن أسسه الحاجات والأمر تعليم اللغة الغربية وكذالك خلفه الطلاب الذين يدخلون ويتعلمون هناك من المعاهد المتنوعة كثيرا ويخترون أسس اللغة, ثم يسئلون مسكن اللغة. من تلك الخلفية يقيم هذا المسكن أن يعطى الفرصة لطلاب الجديد الذين يريدون ويحفظون المهاراتهم عن اللغة, حتىّ هذا المسكن يخصص للطلاب الجديد الذين يملكون الخبرة عن اللغة أو على طلاب الذين لم يملكون الخبرة اللغة ولكن يملكون الغرض أو الحاجات القوىة لتدريس اللغة. تفصيل الخلفية بني هذا المسكن كمايلي: A – إتباع في نشعة وحاجات الزمان الذان طلبان على مهاراة اللغة فعلية وقدرة. B – كثيرا من الطلاب الذين يخرجون من معاهد اللغة. C – بالبتات اللغة أقدر الطلاب يشتركون في المجتمعة. D – ذهّب الصورة أن الطالب مسبوق في الزمان. E- تقع معهد مفتاح الهدى بوسط المدينة في حي الجامعات التى تتقدم مهارة اللغة الغربية. F- فرض التعديل يلهّمه بتقديم الأمر الجديدة بدون ترك السلف. ب- مشكلات البحث 1. كيف تكون البيئة العربية في معهد مفتاح الهدى مالانج؟ • الهدف • مجتمع البيئة • أنشطة • نظام • وسائل معاونة 2. ما وسائل بيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى مالانج؟ 3. كيف فعالية بيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى مالانج؟ ج- أهداف البحث أن تكون نتيجة هذا البحث إسهاما نافعا في مجل تعليم اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى خاصة من الناحية النظرية وتطبيقه. 1- الوصف عن وجود البيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى مالانج 2- الوصف عن وسائل البيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى مالانج 3- الوصف عن فعالية البيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى مالانج د- فروض البحث 1- كان البيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهودى مالانج نصر على طالب في تنمية مهارة الكلام باللغة العربية 2- الوسائل يستخدم في بيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى كاملا, يضم على مسكن و سبورة و معمل 3- البيئة اللغة العربية فعالية في تنمية مهارة الطلاب في الكلام العربي ه- أهمية البحث يرجي الباحث أن يأتي هذا البحث إيجبية من الناحيتان النطرية والتطبيقية. 1- من الناحية النظرية يرجي الباحث على هذا البحث إسهاما في مجال التربية وخاصة في بيئة اللغة العربية في معهد مفتاح الهدى مالانج 2- من الناحية التطبيقية يرجى الباحث على هذا البحث إسهاما إيجابيا لتنمية المهارة الكلام في معهد مفتاح الهدى مالانج, وللمدرس سينطر البيئة اللغة اللعربية أن يكون المثل لصناع البيئة اللغة العربية في الفصل. و- حدود البحث تحديد الباحث في هذا البحث هو: 1- حدود المكانية في معهد مفتاح الهدى مالانج. وأخذ الباحث مسكنا واحدا في مسكن سونان دراجة. 2- حدود الزمانية (شهر إلى شهر ................ ز- تحديد المصطلحات لتجتنب سوء التفاهم والحفاظ على تفسيرات مختلفة لهاذا الموضوع عنوان " إستخدام بيئة اللغة العربية بمعهد مفتاح الهدى مالانج" ولازم على الباحث أن تفهم فيما يلي. البيئة هي مكان تتوافر فيه العوامل المناسبة لمعيشة كائن حيّ أو مجموعة كائنات حية خاصَّة ، كالبيئة الاجتماعية ، والطبيعية ، والجغرافية. اللغة هي أصوات ييعبر بها كل قوم عن أغراضهم (إبن جينى ) ح- الدراسات السابقة لقد بحثت الباحث عن بعض الدراسات التى تتعلق بهذا البحث من بحث العلم كلية الدراسات العليا قسم تعليم اللغة العربية جامعة مولانامالك إبراهيم الإسلامية الحكومية مالانج اسمها ريتا فبرانتا على الموضوع " فعالية إستخدام البيئة المدرسية في ترقية مهارة الكلام" . خ- منهج البحث 1- مدخل البحث : المدخل المناسب لهاذا البحث هو المدخل الكيفي. أم نوع البحث في هذا البحث هو المنهج الوصفي 2- مجتمع البحث : الطلاب في مسكن اللغة معهد مفتاح الهدى مالانج وهم سوف يجيبون الأسئلة الذي تتقدم الباحث من خلال المقابلة. 3- أدوات البحث : يستخدم الباحث المقابلة التى يقدم إلى رئيس المسكن اللغة و المدير مسكن اللغة لنيل البيانات أو المعلومات التى تتعلق على البيئة اللغة العربية في مسكن سونان دراجة (مسكن اللغة). 4- مصادر البيانات : مصادر البيانات في هذا البحث هو نص المعلومات التى تضم على خلفية بناء مسكن اللغة و نظام مسكن اللغة و وسائل في مسكن اللغة و فعاليات في مسكن اللغة. ذ- هيكل البحث هذا البحث يحتوي على ببان كالتالي: الفصل الأول : المبحث الأول: مقدمة, مشكلة البحث, أهداف البحث, فروض البحث, أهمية البحث, حدود البحث, تحديد المصطلحات, الدراسات السابقة, المنهج البحث: مدخل البحث و مجتمع البحث و أدواة البحث و مصادر البيانات و هيكل البحث. الفصل الثاني : ستقدم الباحث في هذا الفصل البحث عن الإطار النظري الذي يحتوى على : البيئة ( مفهوم البيئة و دور البيئة في اكتساب اللغة و تعريف البيئة الاصطناعية و خصائصها و دور البيئة الاصطناعية في اكتساب اللغة الثانية و الموجة عن دور البيئة في اكتساب اللغة الثانية و دور البيئة الاصطناعية في ترتيب اكتساب اللغة الثانية و دور البيئة الاصطناعية في سرعة أو نجاح اكتساب اللغة الثانية و دور البيئة الطبيعية. الفصل الثانى منهجية البحث 2-المبحث الثانى أ‌. مفهوم البيئة تعرض الباحثة هناتعريفات متعددة للبيئة و هي كما يلي: أ‌) و يرى بشر أن البيئة هي الوسط أو مجموعة كائنات حية خصة، و لها عوامل وقوي خارجية تؤثر في الإنسان و سلوكه. ب‌) مرزوقي يقول أن البيئة هي جميع الأشياء و العوامل المادية و المعنوية التى من شأنها أن تؤثر في عملية التعليم و ترغب الطلاب في ترقية اللغة العربية و تدفعهم تشجعهم على تطبقها في واقع حياتهم اليومية. ت‌) البيئة هي الطبيعة بما فيها من أحياء و غير أحياء أي العالم من بعض التساؤلات عن كيف تعمل الطبيعة و كيف تتعامل الكائنات الحية مع الأحياء الآخرين أو مع الوسط المحيط بها سواء الكيماوي أو الطبيعي. و هذا الوسط يطلق عليه النظام البيئي. لهذا نجد النظام البيئي يتكون من مكونات حية و أخرى ميتة أو جامدة. فعلم البيئة هو دراسة الكائنة الحية و علاقتها بما حولها تأثيرها علاقتنا بالأرض. و النظام البيئي هو كل العوامل الغير حية و المجتمعات الحية للأنواع في منطقة ما. و الطبيعة تقوم تلقائيا بعملية التدوير للأشياء التي إستعملت لتعيدها لأشياء نافعة. و سلسلة الطعام فوق الأرض وهي صورة لإظهار تدفق الطاقة الغذائية في البيئة، ففيها تتوجه الطعام من كائن لآخر ليعطي طاقة للحيوان الذي يهضم الطعام و كل سلسلة طعام تبدأ بالشمس. و الحيوانات بما فيها الإنسان لا يمكنها صنع غذائها. فلهذا لابد أن تحصل على طافاتها من النباتات أو الحيوانات الأخرى. لهذا تتعبر الحيوانات مستهلكة. و في نهاية حياة الحيوان تحلله بواسطة الميكروبات و النباتات أيضا ليصبحا جزءا من الأرض بالتربة ليمتصها النباتات من جديد لصتع غذاء جديد و هذا ما نسميه سلسلة الغذاء. ث‌) البيئة التعلمية هي كل العناصر التي يحشدها المربي من الكتاب المدرسي و طريقة التعلم و أنشطة تربوية أثناء الفصل الدراسي و قبله و بعده، و التي تهدف كلها إلى استراتيجية تربوية واحدة تشكل استجابةالمتعلم بالشكل المرغوب فيه. ج‌) أن البيئة هي كل ما يتأخر في تنمية الفرد اى انها الأحوال المحيطة التي تؤثر في تنمية الفرد و سلوكه. ح‌) و أما البيئة اللغوية كما رأى هيديى دولاي هي كل ما يسمعه المتعلم وما يشاهده مما يتعلق باللغة الثانية المدروسة و أما ما تشتمله البيئة اللغوية هي الأحوال في المقصف أو الدكان، المحاورة مع الأصدقاء و حين مشاهدة التلفاز، و حين قراءة الجريدة، و الأحوال حين عملية التعلم في الفصل، و حين قراءة الدروس و غيرها. أما التعريفات التي قد ذكرنا سابقا مختلفة في الفاظها لكن تتركز على هدف واحد و هو أن البيئة هي كل الؤثرة و الإمكانات و القوي المحيطة بالفرد، و التى يمكنها أن تؤثر على جهوده للجصول على الاستقرار النفسي والبدني. أما البيئة التى تقصدها الباحثة هنا هي جميع الأشياء و العوامل المادية و المعنوية التى من شأنها أن تؤثر في عملية التعليم و ترغب الطلاب في ترقية اللغة العربية و خاصة مهارة الكلام و تدفعهم و تشجعهم على تطبيقها لتكلم في واقع حياتهم اليومية باللغة العربية، أو هي كل ما يسمعه المتعلم و ما يشاهده من المؤثرات المهيئة و الإمكانات المحيطة به المتعلقة باللغة العربية المدروسة كلمقصف، و المكتية، و الزراعة، و التى يمكنها أن تؤثر في جهوده للحصول على النجاح في تعليم اللغة العربية ب- دور البيئة في اكتساب اللغة 1- دور البيئة الاصطناعية ( الاصطناعية ) في اكتساب اللغة الثانية يرى هيديى دولاي أن البيئة اللغوية لها دور كبير للطالب الذي يتعلم اللغة لناجاح باهر في تعلم اللغة الحديثة. تعليم اللغة الذي يقوم به المعلم في الفصل يقرر عملية تعلم اللغة للطلب. أن البيئة بنقطة كبيرة تنقسم إلى قسمين : أ‌) البيئة الاصطناعية ب‌) البيئة و غير الاصطناعية (الطباعية) أم البيئة الاصطناعية لها دور هام لا كتساب اللغة الثانية و هي : أ)- يكون متعلم مختلفا في استخدام لغة على حسب الظروف ب)- يكون متعلم محسنا في استخدام اللغة باعتبار القواعد ج)- هذا التعليم يشبع المتعلم الذي يريد استيعاب القواعد اللغوية او نظام اللغة عن قواعد اللغة المدروسة. في ناحية أخرى، أن سيطرة قواعد اللغة الهدف لاتساعد كثيرا في سيطرة المهارات اللغوية للغة الهدف. ج)- تعريف البيئة الاصطناعية و خصائصها البيئه الاصطناعية هي احدى البيئة اللغوية التى تتركز على سيطرة القواعد أو نظام اللغة في اللغة الهدف مع التوعية ( دولاى 1985 – إيليس 1986 ) التوعية على قواعد اللغة الهدف يمكن اقامها بالمنهج الإستنتاجى او المنهج الإستدلالى. و المقصد بالمنهج الإستنتاجي هو أن يوضح المعلم للمتعلم عن قواعد اللغة الهدف ثم إن كان المتعلم فاهما و مستوعبا على القواعد فيحمل المعلم إلى التطبيق. يعنى حالة لعرف الأشكال ( بنية ) اللغوية ثم يسوقه المعلم ليكون واحد نفسه عن تلك القواعد. ووضح كرسين (krashen) عن خصائص البيئة الاصطناعية هي كم يلى - صناعية قصدية - يوجه المعلم على المتتعلمين لكي يعلموا الأنشطة اللغوية التى كانت فيها القواعد اللغوية التى قد تعلموها. و يقدم لهم رد الفعل من المدرس و هو تصميم الأخطاء او اصلاح خطاء المتعلمين. وهي جزء من مجموعات تعليم اللغة في المدرسة. و معرفة القواعد اللغوية بالتوعية يستطيع الطالب وجدائها بالتعلم الرسمي في الفصل، أو من كتب القواعد اللغوية أو من الأخرين الذين يملكون الكفاءة عن معرفة القواعد اللغوية الدروسة، و هذا يدل على أن البيئة الاصطناعية لها تعريف أوسع من التعريف الذي عرفه دولاى و ايليس الساب. و بهذا تشتمل البيئة الاصطناعية بالفصل أو خارج الفصل. الخطر الخطير تؤيد البيئة على سيطرة القواعد اللغوية للمتعلم بالتوعية. د – دور البيئة الاصطناعية في اكتساب اللغة الثانية. و قد وضحت الباحثة تعريف البيئة الاصطناعية و علامتها و في هذا الفصل ستبين الباحثة عن دور البيئة الاصطناعية عند اللغوين. يرى إيليس (iylis) أن اثر التعلم الرسمي ( البيئة الاصطناعية ) يمكن نظره على ناحتين : أ)- ترتيب اكتساب اللغة الثانية، ب)- السرعة أو نجاح سيطرة اللغة الهدف. أن ترتيب النموي في اكتساب اللغة هو ترتيب الطبقات التي لابد لطالب أن يمشيها لاستعاب اللغة الهدف. و قد قسم إيليس هذا الترتيب إلى نوعين: أ)- ترتيب النمو. ب)- تركيب النمو. ترتيب النمو هو مفهوم النمو الذى يميل إلى ترتيب اكتساب الجوانب القواعدية بصفة خاصة في اكتساب اللغة الثانية. و أما تركيب النمو هو مفهوم النمو المستهدف الى مجموعات بنية النمو في اكتساب اللغة الثانية بصفة عامة. يعنى نمو اكتساب اللغة الثانية التى لا تأثرها خلفية اللغة الأولى، و حالة التعلم للمتعلم. و سرعة اكتساب هو سرعة اكتساب المتعلم في السيطرة على اللغة الثانية. ترى نظرية المقربية لكرسين، إن نتيجة التعلم بالتوعية تستخدم للمراقبية فحسب. إن مهارة استخدام اللغة الثانية لا يحصله المتعلم بالأمور التالية: أ)- المعرفة الاصطناعية التى يملكها المتعلم عن اللغة الثانية، ب) – النظام الذي يتعلمه المتعلم في الفصل، ج)- أو النظام الذى يتعلمه المتعلم من كتب قواعد اللغة. عند نظر هذه النظارية المراقبية أن الأساليب التى استخدمها المتعلم في الحوار محصول من نظام الذى قد اكتسابه. و أما المعرفة الاصطناعية عن قواعد اللغة بالتوعية لا تساعد كثيرا لمتعلم اللغة الثانية في الحوار. ه – الموجة عن دور البيئة في اكتساب اللغة الثانية هناك الأفكار المتعلقة بدور البيئة في اكتساب اللغة الثانية، و تقدم الباحثة فكرتين أساسيتين مهمتين في اكتساب اللغة الثانية و تعلمها. الفكرة الأولى هي دور معرفة قواعد اللغة، و قد انتشر الافتراض أن معرفة القواعد هي العنصر الأساسي في تعلم اللغة. و أصحاب هذه النظرية يعتقدون أن سيطرة قواعد اللغة يستطيع متعلم اللغة أن يسيطر مهارة الاتصال باللغة الهدف بنفسه. و بعبارة أخرى أن الكفاءة اللغوية الاتصالية تتمشى مع نمو السيطرة على قواعد اللغة في نفس المتعلم. و الفكرة الثانية، تعتقد أن " التصحيص " الموجة للمتعلم من المعلم أو الكتب أو من ناحية أخرى التى تستحق الكفاءة في اصلاح أخطاء المتعلم في القواعد تساعد كثيرا على السيطرة، أن تصحيح أخطاء المتعلم كلما عمل خطأ يجعل المتعلم يسرع الى السيطرة على اللغة الهدف بالكمال. ترقية الفكرتين السابقة تهيج اللغوين و معلم اللغة الثانية لاختيارها بالبحث الوقعى (EMPIRIS) و – دور البيئة الاصطناعية في ترتيب اكتساب اللغة الثانية البحث عن ترتيب اكتساب اللغة الثانية يبداء باكتشاف الترتيب المتشابه بين ترتيب اكتساب اللغة الأولى ( الأم ) و اللغة الثانية ( اللغة الهدف ). و كان عانجليحان وتوشين (1975) في البحث عن الأطفال اللذين يتعلمون اللغة الإنجلزية كلغتهم الثانية، والجاهل يدل على أن هناك تشابها بين نوع نمو بيئة اللغة الكلية واللغة الإنجلزية في متعلمى اللغة الثانية مع نوع النمو في متعلمي اللغة الأولى (الأم) 29. هذا الإكتشاف يهيج اللغوين لبحث اكتساب الوحذات الصرفية في اكتساب اللغة الثانية. دولاي ويورث في بحثهما عن نمو 8 الوحدات الصرفية للغة الإنجليزية في 151 ولدا من أسبانين الذين يتعلمون اللغة الإنجليزية كللغة الهدف (اللغة الثانية) ويقسم الأولاد إلى ثلاث فرق وبعد بحثهما على اكتساب 8 الوحدات الصرفية يدل على أنها مساوة في الترتيب. في السنة 1974 قام دولاي وبروت البحث الإستمراري عن ترتيب اكتساب تللك الوحدات الصرفية، وهما بحثا عن 11 الوحدات الصرفية للعة الغنجليزية في 115 ولدا متعلموا اللعة الغنجليزية كلغتهم الثانية، وكانت لغتهم الأولى هي لغة الصين والإسبانية. ونتائج البحث تدل على المساوة في الترتيب. وهذا البحث يؤكد بالبحث الذى اقامه فتحان، انليجان وتوجار في ترتيب اكتساب الوحدات الصفية في اكتساب اللغة الثانية. البحوث الأعلى ذكرها هي البحوث متعلقة بترتيب اكتساب الللغة الثانية بصفة عامة. ولذلك يمكن إظهار الأسئلة في فكرتنا "كيف ترتيب اكتساب اللغة الثانية بخلفية البيئة الاصطناعية" تلك الأسئلة اجابها فتمان (1975) في بحثه عن ترتيب اكتساب الوحدات التصفية للغة الإنجليزيت في 200 ولدا (6-15 في عمرهم) وخلفية لغتهم الأولى مختلفة. وينقسم الأولاد إلى صفين، الصف الأول كان الأةةلاد لا يتناولون زيادة في القواعد، وفي الصف الثانى يتناولون الأولاج تعليم قواعد اللغة. على الواقع، أن فرقتين المذكورتين لا يبعد كثيرا في ترتيب نم. 30 قد اكد فركين ولرسن (1975) على البحث الذي اقامه فتمان. هما بحثا 12 طالبا في الجامعة فينوزيلا الذين يتعلمون اللغة في بللك الجامعة على فترة شهرين. قدم لهم بختبارين: 1) الترجمة 2) وتصويف سينيما غير الحوار. على الواقع، النتيجة في الإمتحان الأول في ترتيب اكتساب اللغة تدل على أن هناك فرقا كبيرا قبل تعلم اللغة وبعده، وفي الإمتحان الثانى لا يبعد كثيرا في اكتسابها. والحالة المتساوية من البحث قبله هو البحث الذى اقامه تورنار (1978). بحث تورنار 3 متعلم اللغة الثانية، الحاصل في بحثه أن ترتيب تعليم الوحدات الصرفية الذى علمه المعلم في الفصل لا يدل على أن هناك علاقات قويةفي ترتيب اكتساب متعلم الودات الصرفية (مرفين). ويرى أن التعليم الرسمى ليس هو وحده في ترتيب اكتساب الوحدات الصرفية (مرفين القواعد) عندما يتركز المتعلم على عادية استخدام اللغة وناحية محتوى اللغة. نتائج البحث الثانى الأخرين الذين سبق ذكرهما مقبولتان منطقيا، لأن معرفة التوعية التى ملكها المتعلم، في الأساس من احدى ادوات المراقب. في عملية المراقبة، يستطيع المتعلم أن يعملها بأحسن ما يمكن،: 1) متى هناك الفرصة الكافية، 2) متى يتركز المتعلم في ناحية البنية، 3) متى يملك المتعلم المعرفة الكافية في قواعد اللغة. ولذلك، فرق الترتيب الذى اكتسبه الباحثون (تورنير وفاركيس وكرسين) على الإمكان بتأثر هذه المراقبة. ز – دور البيئة الاصطناعية في سرعة أو نجاح اكتساب اللغة الثانية هناك البحوث في اكتساب اللغة الثانية التي تدخل إلى البحث عن دور البيئة الاصطناعية في نجاح اكتساب اللغة الثانية. وهى أ) دور التصحيح (إصلاح الأخطاء) في اكتساب اللغة الثانية، ب) دور التوسيع في اكتساب اللغة الثانية، ت) ودور التكرار في اكتساب اللغة الثانية. والشرح عن ما سبق ذكره كما يلى: 1) – دور التصحيح (إصلاح الأخطاء) في اكتساب اللغة الثانية بحث حندير كسون (1977) 552 مقالة إنشائية بمدة 6 أسابيع. وبعض المقالات الإنشائية تصلح في كل الأخطاء وبعضهاتصلاح اجمالا فحسب. والحاصل لهذا البحث يدل على أنه لا فلاقة مهمة بين التصحيح بيظام خاص وصحة استخدام قواعد اللغة. 2) – دور التوسيع في اكتساب اللغة الثانية التوسيع (expansion) هو تقديم قواعد اللغة لدارسين باستعمال الأمثال (باستخدام الأمثال لنموذحية) بنظام، إما في حوار المتعلمين صحيحا كان او اكمل بدون طلبة المتعلمين لكي يهتموا على ذلك التوسيع. بحث جاسدين (1956) للمتعلمين اللغة متعلق بالتوسيع يدل على أن التوسع الذي اعطى المدرس للتعلم ساعة واحدة في كل يوم بفترة ثلاثة أشهر لايتأثر كثيرا في حوا رهم. وأما نتيجة نيلصان واصحابه (1973) في بحثهم أن الأولاد الذين تقدم اليهم الدراسة المتناسقة بتوسيع الجمل لمدة 13 أسبوعا يدل على أن من الناحية اللغوية أنهم يظهرون التقدم في مهارات اللغة أكثر من الأولاد من فرقة المراقب. ويكاد متساويا ببحث نلصان وأصحابه على ما سبق ذكره وهو البحث الذى أقامه فلمان (1971). أنه قسم الأولاد إلى فرقتين، فرقة للتجربة وفرقة للمراقبة. وفي نهاية تجربته وجد أن هناك فرقا قليلا بين هاتين الفرقتين. والحاصل من البحوث الأعلى ذكرها وجدنا أن التوسيع الذى قدم المدرس لداسين لا يتأثر كثيرا على ترقية لغتهم. 3) – دور التكرر في اكتساب اللغة الثانية أكثر المدرسين يظنون أن التعليم الرسمى (تعليم قواعد اللغة) مع التكرار العديد يستطيع أن يرقى مهارات الدارسين في اللغة. ولذا، اكثر المدرسين يقدمون قواعد اللغة للدارسين اكثر مما كان. وجد لارسين وفريمان (1976) في بحثه على أن التكرار في بية لغوية له علاقة مترابطة ايجابية في سيطرة المتعلمين في قواع اللغة. وكشفاهما "كلما يكثر في استماع البنية اللغوية يكون سريعا في سيطرة البنية اللغوية". ولكن يعارض الباحثون الأخرون على النتائج التى وجدها لرسين وفريمان، بعض منهم برون (1970)، واغنار – غوت وحات (1975). واغنار – غوت وحات في بحثهما لولد متعلم اللغة الإنجليزية كلغته الثانية يخبران أن الجملة الإستفهامية التى تظهر هناك مترابطة باستخدامها المتعددة. وهذا يدل على أن كثرة الستماع بنية اللغة المعينة فكانت توعية المتعلمين لتلك القواعد تزيد مرتفعة. وبتوعيتهم العالية تؤثر لغتهم. ونتيجتهما في البحث يكون هناك سؤال واحد فحسب الذى لايدل على ارتباطه الإيجابى وهو سؤال الذى حصله ذللك الولد نفسه. وجد برون في ملاحظة نمو لغة الولد أن الأنماط (تطبيق القواعد) المكرهة للأولاد ادت إلى اصدار نمط جديد يختلف بأنماط المدروسة. وهذا لأن الأولاد لا يقبلون القواعد من المدرس كلها ولكننه أيضا ليست له كفاءة كافية في قواعد اللغة. وهذا أدى إلى اصدلر البيئة الغريبة. ج – دور البيئة الطبيعية أما مارينا برت وها يدي دوليه فتريان أن البيئة الطبيعية التي يعيش فيها الطفل بقوم بدور مهم في تعلم اللغة: 1) - إن البيئة الطبيعية للغة تكون ذات أهمية إضافية حينما يكون تركيز المتكلم على التواصل اللغوي لا على اللغة نفسها. ففي الحديث بين شخصين تكون المحادثة طبيعية، وكذلك ينساب تبادل الألفاظ بشكل طبيعي. إن المشاركين في تبادل الحديث يهتمون بتبادل المعلومات والأفكار، وفي الوقت نفسه يستعملون أبية اللغة، ويحدث ذلك علميا دون وعي أو إدراك لبناء الجمل الذي يستعملونه. 2) – إن الكاتبتين مصيبتان فيما ذهبنا إليه، ويؤكد بنجامين وورف (1956) ذلك بقولهما: "إن التراكيب والعلاقة التي نستعملها لكي نفهم العالم، تأتي من داخل لغتنا الخاصة، وهكذا فإن المتكلمين للغات مختلفة، يفهمون بطرق مختلفة، وفليه فإن اكتساب اللغة، يعني التعلم كيف نفكر، وليس كيف نتكلم. وتقول مارينا بيرت وها يدي دوليه (1981): لقد حاولنا أن نضع المتعلم والبيئة معا لتقديم حقائق حول تعلم اللغة تكون قابلة للتطبيق في الغالب، وتوصلنا إلى النتائج الآتية: أ‌) – البيئة الطبيعية ضرورية للاكتساب الأمث للغة. ب‌) - يجب أن يكون الاتصال اللغوي بمستوى حصيلة الطفل اللغوية. ت‌) - أن تكون اللغة المستعملة مهومة للمتعلم. ولعالم الاجتماع العربي ابن خلدون رأي في تعليم اللغة، فقد قال في معرض كلامه عن انتقال الألسن واللغات من جيل إلى جيل، وذلك في فصل عنوانه: "إن اللغة ملكة صناعية": فالمتكلم من الغرب ححيث كانت ملكة اللغة العربية موجودة فيهم يسمع كلام أهل جيله وأساليبهم في مخاطبتهم وكيفية تعبيرهم عن مقاصهم كما يسمع الصبي استعمال المفردات في معانيها فيلقنها أولا، ثم يسمع التراكيب بعدها فيلقنها كذلك، ثم لايزال سماعه لذلك يتحدد في كل لحظة ومن كل متكلم واستعماله يتكرر إلى أن يصير ذلك ملكة وصفة راسخة ويكون كأحدهم، هكذا تصيرت الألسن واللغات من جيل إلى جيل وتعلمها العجم والأطفال. وهذا هو معنى ما تقوله العامة من أن اللغة للعرب بالطبع أي بالملكة الأولى التي أخذت عنهم ولم يأخذوها عن غيرهم. ثم إنة لما فسدت هذه الملكة لمضر بمخالطتهم الأعاجم وسبب فسادهم أن الناشئ من الجيل صار يسمع في العبارة عن المقاصد كيفيات أخرى". ويقول في مقام آخر: "وكل منهم متوصل بلغته إلى تأدية مقصوده، والإبانة عما في يفسه، وهذا معنى اللسان واللغة، وفقدان الإعراب ليس بضائر لهم، كما قلناه في لغة العرب لهذا العهد، وأما أنها أبعد عن اللسان الأول من لغة هذا الجيل فلأن البعد عن اللسان أنما هو بمخالطة العجمة. يرى ابن خلدون أن الملكة صفة راسخة، ولا تتحقق وتحصل هذه الصفة ألا بتكرار الأفعال, ومفهوم الملكة عند ابن خلدون هو قدرة المتكلم على امتلاك ناصية الكلام. ومن قراءة هذا النص لابن خلدون ندرك أن آراءه سليمة وترتكز على قواعد علمية صحيحة، ولا تبتعد كثيرا عن النظريات الحديثة. ففي النص الأول عدة عوامل وتعتبر أساسية في تعلم اللغة وهي:

ALAT PENGUMPUL DATA BAB I PENDAHULUAN 1. LatarBelakang Penelitian pada hakekatnya merupakan wahana untuk menentukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran itu dapat dilakukan oleh para peneliti dengan melalui beberapa proses yang tertera dalam prosedur prosedur terentu. Salah satu tindakan terpenting bagi seorang peneliti adalah pengumpulan data yang digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan pada kelas tertentu. Teknik pengumpulan data utama yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas adalah teknik pengamatan atau observasi, baik pengamatan sekilas maupun pengamatan terlibat (participant observation). Pengumpulan data dapat juga dilakukan melalui teknik wawancara, baik wawancara biasa, wawancara terstruktur, maupun wawancara mendalam (in depth interview). Selain itu, peneliti juga menggunakan teknik assesment: baik tes subyektif (tes buatan peneliti dan guru) maupun tes obyektif. Sebagaimana yang telah diketahui, tidak semua data dapat dikumpulkan melalui satu teknik saja. Tidak semua data yang diperlukan dapat dikumpulkan melalui teknik pengamatan. Demikian pula tidak semua data yang diperlukan dapat dikumpulkan melalui teknik assesment. Tiap-tiap teknik pengumpulan data memiliki kelebihan dan keterbatasan. Pengamatan terbatas untuk pengumpulkan data yang dilihat secara kasat mata, baik yang menggunakan indera pengelihatan (mata) maupun kamera audio visual. Sedangkan teknik wawancara terbatas untuk menggali data tentang apa yang diucapkan, dipikirkan dan dirasakan, termasuk (minat, kepekaan, dan penghargaan) informan. Di pihak lain, teknik assesment dapat digunakan untuk menggali data tentang kemampuan (kompetensi) seseorang, yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomorik. 2. Rumusan Masalah 1) Apa pengertian data dalam PTK? 2) Apa saja alat yang digunakan dalam mengumpulkan data? 3) Apapersyaratan dalam mengumpulkan data? 3. Tujuan Masalah 1) Mengetahui pengertian data dalam PTK. 2) Mengetahui jenis – jenis alat pengumpul data. 3) Mengetahui persyaratan dalam proses mengumpulkan data. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Data Dalam PTK Data dalam PTK adalah segala bentuk informasi yang terkait dengan kondisi, proses, dan keterlaksanaan pembelajaran, serta hasil belajar yang di peroleh siswa. Sedangkan analisis data dalam PTK adalah suatu kegiatan mencermati atau menelaah, menguraikan dan mengaitkan setiap informasi yang terkait dengan kondisi awal, proses belajar dan hasil pembelajaran untuk memperoleh simpulan tentang keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data. Data yang dikumpulkan ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Data itu dikumpulkan oleh sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Sampel tersebut terdiri atas sekumpulan unit analisis sebagai sasaran penelitian. Jenis data yang akan dikumpulkan dan akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau ketidak berhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan dapat bersifat kualitatif, kuantitatif atau kombinasi keduanya. Data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. 1) Data kuantitatif merupakan data yang berupa angka atau bilangan, baik yang di peroleh dari hasil pengukuran maupun diperoleh dengan cara mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. Contoh data kuantitatif: skor tes awal Tina untuk pelajaran Matematika =65, berat badan Tina=47 kg, panjang meja tulis = 150 cm. 2) Data kualitatif merupakan data yang berupa kalimat kalimat atau data yang dikatagorikan berdasarkan kualitas objek yang diteliti, misalnya :baik, buruk, pandai dan lain sebagainya. 2.2 Jenis Alat Pengumpul Data. Jenis alat pengumpul data yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) harus diuraikan dengan jelas, seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di kelas, penggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur assesment, dan lain sebagainya. Contoh cara pengumpulan data:  Data hasil belajar, diambil dengan memberikan tes kepada siswa.  Data tentang situasi pembelajaran pada saat dilaksanakan tindakan, diambil dengan menggunakan lembar observasi.  Data tentang refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas, diambil dari jurnal yang dibuat guru.  Data tentang keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan pembelajaran, didapatkan dari rencana pembelajaran dan lembar observasi. Adapaun beberapa yang dapat dipakai untuk membantu indera manusia dalam penelitian yaitu: 1) Observasi 2) Interview 3) Kuesioner 4) Tes 5) Jurnal siswa 6) Assesment 7) Pekerjaan siswa 8) Audio taping or video taping 9) Catatan tingkah laku siswa (Anecdotal record) 10) Attitude scales (Likert Scales or Semantic Differential) 11) Dokumentasi Dalam hal ini yang dibahas hanya beberapa alat pengumpul data yang sering digunakan dalam PTK. Adapun alat pengumpul data tersebut, yaitu: 1) Observasi a.Pengertian observasi Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan kondisi interaksi belajar-mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok. Tipe-tipe pengamatan yaitu, pengamatan berstruktur (dengan pedoman), pengamatan tidak berstruktur (tidak menggunakan pedoman). Untuk mencapai tujuan pengamatan, diperlukan adanya pedoman pengamatan. Pengamatan sebagai alat pengumpul data ada kecenderungan terpengaruh oleh pengamat/observer sehingga hasil pengamatan tidak objektif biasanya disebut dengan hallo efek (kesan yang dibentuk oleh pengamat). Untuk menghindari pengaruh ini digunakan dua atau tiga pengamat yang memiliki latar belakang keilmuan yang serupa. b.Alat Bantu Observasi Berbagai alat bantu dapat digunakan untuk memfasilitasi perekaman data sesuai dengan spesifikasi yang dikehendaki. Alat bantu yang paling terbuka adalah selembar kertas kosong. Alat bantu rekaman elektronik memang menjanjikan kelengkapan dokumentasi, meskipun masih mengandung keterbatasan-keterbatasan juga. Kamera hanya mampu merekam informasivisual dua dimensi tanpa gerak, tape recorder hanya mampu informasi audio, sedangkan kamera video dapat merekam 2 dimensi informasi yaitu audio dan visual, meskipun masih tetap ada keterbatasan teknis. c.Pelaksanaan Observasi Pada saat observasi dilakukan, observer mengamati proses pembelajaran dan mengumpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran tersebut, baik yang terjadi pada guru, siswa maupun situasi kelas. Perlu diingat bahwa observer hanya mencatat apa yang dilihat dan didengar bukan memberikan penilaian atau menggangu. Untuk menghilangkan ketegangan guru selama diobservasi, pada saat terakhir observasi dilakukan diskusi yang bersifat positif selama 5 atau 10 menit. Observer sebaiknya juga memberikan salinan catatan observasi kepada guru yang diobservasi. 2) Wawancara Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data kualitatif dengan menggunakan instrumen yaitu pedoman wawancara. Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan subjek penelitian yang terbatas. Untuk memperoleh data yang memadai sebagai cross ceks, seorang peneliti dapat menggunakan teknik beberapa teknik wawancara yang sesuai dengan situasi dan kondisi subjek yang terlibat dalam interaksi sosial yang dianggap memiliki pengetahuan, mendalami kondisi dan mengetahui informasi untuk mewakili informasi atau data yang dibutuhkan untuk menjawab fokus penelitian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar wawancara berlangsung efektif adalah sebagai berikut: a) Bersikap sebagai pewawancara yang simpatik. b) Bersikap netral dalam relevansinya dengan pelajaran. c) Upayakan jangan menunjukkan sikap terheran-heran atau tidak menyetujui terhadap apa yang dinyatakan atau ditunjukkan oleh peserta didik. d) Bersikap tenang, tidak terburu-buru atau ragu-ragu. e) Mungkin peserta didik yang diwawancarai merasa takut kalau mereka menunjukkan sikap atau gagasan yang salah menurut anda, yakinkanlah peserta didik bahwa pendapatnya penting bagi peneliti, bahwa apa yang mereka pikirkan penting bagi peneliti dan wawancara ini bukan tes atau ujian. f) Secara khusus perhatikan bahasa yang digunakan untuk mewawancara, ajukan frasa yang sama pada setiap pertanyaan, selalu ingat akan garis besar tujuan wawancara, ulangi pertanyaan apabila peserta didik menjawab secara umum atau kabur sifatnya (Rochiati,2006:118). 3) Kuesioner Kontak langsung dengan para subjek yang diperlukan dalam wawancara memakan waktu yang lama, tenaga dan biayanya.Banyak informasi yang dapat dikumpulkan dengan perantara daftar pertanyaan tertulis yang diberikan kepada subjek yang diteliti. Kuesioner ada dua macam yaitu: a) Kuesioner berstruktur atau bentuk tertutup. b) Kuesioner tidak berstruktur atau terbuka. Kuesioner berstruktur berisi pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban, sedangkan kuesioner tak berstruktur pertanyaan tidak disertai dengan jawaban. 4. Tes Tes merupakan alat pengukur data yang berharga dalam penelitian. Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang di berikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban – jawaban yang dijadikan penetapan skor angka. Adapun jenis tes dalam penelitian adalah tes prestasi belajar, dan tes kecerdasan. 2.3 Persyaratan Pengumpulan Data. Dalam melakukan pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas tidak hanya menggunakan satu teknik tertentu, tetapi multiteknik dan tentunya juga dengan multi instrument sebagai alat pengumpul data.Dalam pelaksanaan penelitian, seorang peneliti mengharapkan data-data yang terkumpul sesuai dengan kenyataan, ketepatan pengumpulan. Artinya data yang terkumpul memang mengukur apa yang seharusnya di ukur. Untuk mengumpulkan data yang memilikiketepatan, perlu persyaratan dalam proses pengumpulan data, yaitu : a. Validitas Validitas adalah tingkat kesahihan alat pengumpul data(instrument)atau mengukur dengan tepat apa yang seharus nya diperoleh dari hasil penelitian. Dengan kata lain,data yang terkumpul benar benar yang ingin diperoleh oleh peneliti. Salah satu teknik validitas adalah meminta para pendapat ahli tentang pandangan, pendapat, penilaian terhadap instrumen yang ingin digunakan dalam penelitian tersebut. b. Reliabilitas. Hal ini berkaitan dengan keajegan, ketetapan data yang diperoleh dari hasil penelitian. Teknik terpenting dari pengumpulan data supaya memperoleh data yang reliabilitas,kejujuran, kesungguhan, dan ketelitian selama proses pengumpulan data. c. Kegunaan. Hal ini berkaitan dengan pemanfaatan data hasil penelitian dalam kasus penelitian, maka kegunaan nya hanya diberlakukan pada kelas yang diteliti.Temuan- temuan selama penelitian harus memberikan manfaat pada siswa, guru sebagai peneliti dan sekolah. Pada proses dan hasil pengumpulan data dalam PTK perlu tetap memprihatinkan segi-segi etika. Etika sebagai peneliti, etika sebagai guru, dan tentunya menjaga kerahasiaan nama baik. Hal ini munculmenghindari dampak negative yang mungkin saja muncul. BAB III PENUTUP KESIMPULAN Data dalam PTK adalah segala bentuk informasi yang terkait dengan kondisi, proses, dan keterlaksanaan pembelajaran, serta hasil belajar yang di peroleh siswa. Data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. • Data kuantitatif merupakan data yang berupa angka atau bilangan, baik yang di peroleh dari hasil pengukuran maupun diperoleh dengan cara mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. • Data kualitatif merupakan data yang berupa kalimat kalimat atau data yang dikatagorikan berdasarkan kualitas objek yang diteliti, misalnya :baik, buruk, pandai dan lain sebagainya. Beberapa teknik yang dapat dipakai untuk membantu indera manusia dalam penelitian yaitu: 1) Observasi 2) Interview 3) Kuesioner 4) Tes 5) Jurnal siswa 6) Assesment 7) Pekerjaan siswa 8) Audio taping or video taping 9) Catatan tingkah laku siswa (Anecdotal record) 10) Attitude scales (Likert Scales or Semantic Differential) 11) Dokumentasi Adapun teknik pengumpulan data yang seringkali digunakan dalam PTK adalah observasi, wawancara, kuesioner dan tes. Untuk mengumpulkan data yang memilikiketepatan, perlu persyaratan dalam proses pengumpulan data, yaitu : a. Validitas: Validitas adalah tingkat kesahihan alat pengumpul data(instrument)atau mengukur dengan tepat apa yang seharus nya diperoleh dari hasil penelitian. b. Reliabilitas: Hal ini berkaitan dengan keajegan, ketetapan data yang diperoleh dari hasil penelitian. c. Kegunaan: Hal ini berkaitan dengan pemanfaatan data hasil penelitian dalam kasus penelitian, maka kegunaannya hanya diberlakukan pada kelas yang diteliti. DAFTAR PUSTAKA 1. Iskandar. 2009.Penelitian Tindakan Kelas. Ciputat. Gaung Persada. 2. WijayaKusumah. 2010.Mengenal penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Indeks. 3. Prof.Dr.Hamzah B. Uno,M.Pd.dkk. 2011.Menjadi Peneliti PTK yang profesional. Jakarta; Bumi aksara. 4. Soekarno. 2009.Penelitian Tindakan Kelas Prinsip-prinsip Dasar,Konsep&Implementasinya. Surakarta;Media Perkasa. 5. http://sdi-tellobaru.blogspot.com/2011/02/analisis-data-dalam-ptk.html 6. http://www.ak-ishaq.com/2011/01/persyaratan-pengumpulan-data.html

Hakekat PTK 1. Menurut Carr dan Kemmis (1986) Adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri (self reflective) yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasinsosial untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran: a. Praktek-praktek sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri. b. Pengertian mengenai praktek-praktek tersebut. c. Situasi-situasi dimana praktek-praktek tersebut dilaksanakan. 2. Menurut McNiff (1992) Memandang hakekat PTK adalah sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat di manfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar. PTK merupakan penelitian tentang, untuk, dan oleh masyarakat/kelompok sasaran dengan memanfaatkan interaksi, partisipasi, dan kolaburatif antara penelitian dan kelompok sasaran. 3. Nama lain PTK Penelitian Cassroom Action Reseach (CAR) juga dikenal dengan nama: a. Participatory reseach b. Collaborative reseach c. Emancipatory reseach d. Action learning e. Contextual Action learning Definisi PTK PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Masalah PTK harus berawal dari guru itu sendiri yang berkeinginan memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajarannya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. PTK atau Classroom Action Reseach (CAR) adalah penelitian tindakan (action reseach) yang dilaksanakan oleh guru didalam kelas. Penelitian tindakan pada hakekatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan-riset-tindakan...”, yang dilakukan dalam rangkaian guna memecakan masalah. Terdapat beberapa jenis Penelitian Tindakan, dua diantaranya adalah penelitian tindakan perorangan (andividual action reseach) dan penelitian tindakan kelompok (collaborative action reseach). Penelitian tindakan termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Penelitian Tindakan vs Penelitian Formal Penelitian tindakan berbeda dari penelitian formal. Penelitian formal bertujuan menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Penelitian tindakan lebih bertujuan memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasikan. Namun demikian hasil penelitian tindakan dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar belakang yang mirip dengan penelitian. Prinsip Dasar PTK Prinsip Dasar PTK adalah: 1. Berkelanjutan. PTK merupakan upaya yang berkelanjutan secara siklustik. 2. Integral. PTK merupakan bagian integral dari konteks yang diteliti. 3. Ilmiah. Diagnosis masalah berdasar pada kejadian nyata. 4. Motivasi dari dalam. Motivasi untuk memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam. 5. Lingkup. Masalah tidak dibatasi pada masalah pembelajaran di dalam dan luar ruang kelas. Peran Guru dalam PTK Dalam PTK, guru harus bertindak sebagai pengajar sekaligus penelitian. Fokus penelitikan berupa kegiatan pembelajran. Guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya dan biasanya interaksi yang terjadi antara guru dan siswa berlangsung secara unik. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan kreatif dan inovatif yang bersifat pengembangan mengharuskan guru mampu melakukan PTK dikelasnya. Guru pun mempunyai hak otonomi untuk menilai sendiri kinerjanya. Metode paling utama adalah merefleksikan dari dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang sudah baku dan bukan tradisional. Dari berbagai pengalaman penelitian, temuan penelitian tradisional terkadang sangat sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran di sekolah. Karena itu arahan atau petunjuk untuk melakukan PTK dan sumber dananya sangat diperlakukan oleh para guru. Sehubungan dengan sumber dana, Fasli Jalal (2007) dalam makalahnya berjudul “peningkatan Mutu Pendidikan” mengatakan bahwa; “pada tahun 2007 pemerintaha telah memprogramkan tiga kegiatan utama peningkatan profesional guru berkelanjutan berkolaborasi dengan LPTK dan menyediakan dana block grant untuk kepentingan tersebut, yakni kegiatan: (1) Penelitan tindakan kelas (PTK) bagi 3.837 guru dengan alokasi dana sebesar Rp. 13.653.600.000,-; (2) Bimbingan karya tulisan ilmiah bagi 10.000 guru alokasi dana sebesar Rp. 50.000.000.000,-; dan (3) Pertemuan ilmiah guru, baik d tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Pemerintah juga memberikan hak cuti kepada guru yang akan melakasanakan kegiatan penelitian dan penulisan buku pelajaran”. Berbagai Manfaat PTK 1. Manfaat Umum PTK Manfaat PTK Bgi guru banyak sekali. Diantaranya yaitu: a. Membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran, b. Meningkatkan profesionalitas guru, c. Meningkatkan rasa percaya diri guru, d. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Namun demikian, PTK sebagai salah satu metode penelitian memiliki beberapa keterbatasan, yang ‘one man show’ bertindak sebagai pengajar dan sekaligus peneliti sering membuat dirinya menjadi sangat repot. 2. Manfaat Khusus PTK a. Menumbuhkan Kebiasaan Menulis Dengan melakukan PTK, guru menjadi terbiasa menulis, dan sangat baik dampaknya terutama bila guru sekolah negeri atau PNS akan naik pangkat, khususnya dari gol. IV/A ke IV/B, karena guru diharuskan menulis karya tulis begitu pun bagi guru sekolah swasta, PTK sangat penting untuk meningkatkan apresiasi, dan profesionalisme guru dalam mengajar. Apalagi dengan adanya program sertifikasi guru dari pemerintah. b. Menumbuhkan Budaya Meneliti Selain itu, PTK akan menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru yang merupakan dampak dari pelaksanaan tindakan secara berkesinambungan, maka manfaat yang dapat diperoleh secara keseluruhan yaitu lebel inovasi pendidikan karena para guru semakain diperdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara lebih mandiri. Sikap mandiri akan memicu lahirnya “percaya diri” untuk mencoba hal-hak baru yang diduga dapat menuju perbaikan sisitem pembelajaran. Sikap ingin selalu mencoba akan memicu peningkatan kinerja dan profesionalisme seorang guru secara berkesinambungan. Sehingga proses belajar sepanjang hayatterus terjadi pada dirinya. c. Menggali Ide Baru Setiap hari guru menghadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada habisnya. Oleh karena itu bila guru tidak dapat menemukan masalah untuk PTK sungguh ironis. Merenunglah barang sejenak, atau mengobrollah dengan teman sejawat, anda akan segera menemukan kembali seribu satu masalah yang telah merepotkan anda selama ini dalam proses pembelajaran di sekolah.dapatkan khasanah ilmu pendidikan baru yang belum tergali! Jadikan diri anda sebagai penemu metode-metode baru dalam dunia pendidikan kita. d. Melatih Pemikiran Ilmiah Adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran di kelasnya merupakan awal dimulainya PTK. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Guru diarahkan untuk berpikir ilmiah, melalui masalah yang mereka temukan. Langkah menemukan masalah akan dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan antara perbaikan, pengamatan, dan refleksi. Namun demikian harus dapat dibedakan antara pengamatan dan refleksi. Pengamatan lebih cenderung kepada proses, sedangkan refleksi merupakan perenungan dari proses yang sudah dilakukan. Refleksi adalah cermin dari apa yang telah kita lakukan. e. Mengembangkan Keterampilan Tujuan utama PTK adalah mengubah perilaku pengajaran guru, perilaku peserta didik di kelas, peningkatan atau perbaikan praktik pembelajaran, dan atau mengubah kerangka kerja pelaksanaan pembelajaran kelas yang diajar oleh guru tersebut sehingga terjadi peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses pembelajaran. Jadi, PTK lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas. f. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kelas PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruang kelas, menurut Cohen & Manion (1980: 211) PTK dapat berfungsi sebagai: 1. Alat untuk mengatasi masalah-masalah yang diagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; 2. Alat pelatihan jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru serta mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; 3. Alat untuk memesukkan pendekatan tambahan atau inovasi (secara alami) ke dalam sisitem yang ada; 4. Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; 5. Alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas; 6. Alat untuk mengembangkan keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dihadapi di kelasnya. 3. Kesimpulan Manfaat Manfaat PTK yang dilakukan di sekolah dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Menumbuhkan kebiasaan menulis. Karena terbiasa menulis, guru bisa memperoleh kesempatan untuk naik golongan bagi PNS, karena sertifikasi guru masyarakat PTK. b. Berpikir analisis dan ilmiah. Karena terbiasa mencari akar masalah dan mencoba mencari jalan keluar, maka seorang guru akan terbiasa untuk berpikir analitis dan ilmiah. Oleh karena itu, PTK dapat mengarahkan guru untuk selalu berpikir ilmiah dalam memecahkan masalahnya. c. Menambah khasanah ilmu pendidikan. Dengan banyaknya tulisan dari para guru yang melakukan PTK, maka akan banyak kesempatan bagi para guru untuk membaca dan mengembangkan wawasannya. Hal ini dapat menambah khasanah baru dalam dunia pendidikan. d. Menumbuhkan semangat guru lain. PTK dapat mendorong guru lain untuk mencoba melakukan PTK dikelas yang diajarnya dan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. e. Mengembangkan pembelajaran. Dengan PTK, guru dapat mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan dapat memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas. f. Meningkatkan mutu sekolah secara keseluruhan. PTK pada intinya memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Semakin sering dan banyak guru yang menulis PTK maka semakin baiklah kualitas sekolah tersebut. Keunggulan PTK Keunggulan PTK yang dilaksanakan disekolah diantaranya yaitu: 1. Praktis dan langsung relevan untuk situasi yang aktual 2. Kerangka kerjanya teratur 3. Berdasarkan pada observasi nyata dan objektif 4. Fleksibel dan adaptif 5. Dapat digunakan untuk inovasi pembelajaran 6. Dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat kelas 7. Dapat digunakan untuk meningkatkan kepekaan atau profesionalisme guru. Prinsip PTK Selain memiliki keunggulan, PTK mempunyai beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru di sekolah. Prinsip tersebut diantaranya: 1. Tidak mengganggu pekerjaan utama guru yaitu mengajar 2. Metode pengumpulan data tidak menuntut metode yang berlebihan sehingga menganggu proses pembelajaran 3. Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel sehingga hepotesis yang dirumuskan cukup menyakinkan 4. Masalah yang diteliti adalah masalah pembelajaran di kelas yang cukup merisaukan guru dan guru memiliki komitmen untuk mencari solusinya 5. Guru harus konsisiten terhadap etika pekerjaannya dan mengindahkan tata krama organisasi. Asalah yang diteliti sebaiknya cepat tersosialisasi 6. Masalah tidak hanya berfokus pada konteks kelas, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan (perlu kerja sama antara guru dan dosen) Perlombaan PTK Tingkat Nasional Selain itu, PTK setiap tahunnya diperlombahkan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan guru diharapkan dapat mengikutinya. Lomba karya tulis yang setiap tahun diperlombahkan diantaranya: 1. Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran 2. Lombah Karya Tulis Imtak (www.depdiknas.go.id) 3. Lomba Karya Innovative Teacher (www.detik.com) 4. Lomba Karya Tulis Pembuatan Media Pembelajaran (www.e-dukasi.net) 5. Lomba Karya Tulis Inovatif Pembelajaran Guru (www.pdkjateng.go.id) 6. Lomba Karya Tulis Guru ESIS (Penerbit ESIS atau www.erlangga.com) Rujukan Kusumah wijaya & dwitagama dedi, Mengenal penelitian tindakan kelas, 2011, PT. Indeks, jakarta

Tes Kemampuan Unsur-unsur Bahasa Arab Yang dimaksud dengan unsur-unsur bahasa Arab (mukawwanat al-lugah al-Arabiyah) adalah ashwat, mufradat dan tarakib. Untuk mengukur kemampuan tentang unsur-unsur bhasa Arab tersebut diperlukan alat ukur berupa tes. Berikut ini akan dijelaskan dan dipaparkan alat ukur tersebut disertai dengan contoh-contohnya, sehingga dapat juga digunakan untuk mengukur kemampuan penguasaan unsur-unsur bahasa Arab. 1. Tes ashwat Bahasa Arab Bloch dan Trager mendefinisikan bahasa adalah : language is a system of arbitray vocal symbol by means of which a social group cooperates ( sistem simbol-simbol bunyi yang arbiter yang dipergunkan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat ukur untuk berkomunikasi) Fari pengertian bahasa diatas, maka unsur bunyi dalam bahasa Arab menjadi sangat penting untuk dipelajari dengan maksud agar pengucapan bahasa Arab sesuai dengan aturan bahasa Arab yang telah ditetapkan. Pengusaan terhadap unsur bunyi bahasa Arab tidak hanya terbatas kepada pengucapan dan pelafalan saja tetapi juga penguasaan terhadap stresing dan intonasinya. Kemampuan dasa terhadap unsur bunyi Bahasa Arab memang diawali dari penguasaan mengucapkan huruf demi huruf dengan benar; sesuai dengan makhrajnya, karena kesalahan dalam mengucapkan huruf dalam bahasa Arab bisa berakibat fatal, sebagai contoh: pengucapan /ك / menjadi /ق/ dapat merubah dari anjing menjadi hati, demikian juga dalam banyak kata yang lain dalam bahasa Arab. Karena itu kegagalan untuk membedakan /ك/ dan /ق/ dalam bahasa Arab, misalnya dapat menyebabkan kesulitan untuk membedakan kata / كلب/ dan / قلب/ . Tujuan tes bunyi bahasa dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang tingkat penguasaan lafal bunyi bahasa, kemampuan melafalkan bunyi bahasa menyangkut aspek bunyi bahasa yang panjangnya bervariasi, mulai dari yang paling kecil dalam bentuk masing-masing bunyi bahasa, sampai kata-kata lepas, frasa, kalimat, dan wacana yang lengkap (Djiwandono, 1990: 40) Pelaksananaan tes bunyi bahasa Arab bagi penutur asing dirasa sangat penting, misalnya tes bunyi bahasa Arab bagi pembeljar penutur asli bahasa Indonesia, mengingat guru atau pembelajar bahasa asing diharapkan mampu melafalkan secara baik dan benar, seperti yang dilakukan oleh penutur asli bahasa yang tengah dipelajari. Penilaian tes bunyi bahasa Arab, dilakukan atas dasar ketepatan, baik dari segi masing-masing bunyi bahasa Arab maupun sebagai rangkaian bunyi bahasa dalam kata-kata, frasa, kalimat, atau wacana yang meliputi jeda bunyi (waqf), tekanan suara (nabr), dan intonasi (tangim). Beberapa contoh tes bunyi bahasa Arab yang dapat dilakukan untuk mengukur kemampuan mengenal dan membedakan bunyi bahasa Arab adalah sebagai berikut: a) Membaca dengan suara nyaring Siswa diminta untuk melafalkan rangkaian kalimat atau paragraf atau wacana lengkap dengan suara jelas atau nyaring. Sebaiknya guru membatasi kalimat tertentu yang harus dilafalkan oleh siswa untuk dapat memberikan skor atau penilaian dari masing-masing kalimat yang dilafalkan dengan benar, dan mengurangi nilai dari kesalahan yang dilakukan dalam melafalkan bunyi bahasa tersebut. b) Membedakan bunyi bahasa Arab yang mirip Siswa dapat memperhatikan kata-kata yang diucapkan atau yang diperdengarkan oleh guru atau melalui rekaman, dan guru dapat meminta siswa melafalkan satu atau dua kalimat yang sering kali diulang pelafalannya, atau membedakan dua kalimat yang memiliki kemiripan bunyi seperti (صال، سال ). c) Melafalkan Tsunaiyat Shugra (minimal pairs) Yang dimaksud dengan Tsunaiyat Shugra (minimal pairs) adalah dua ujaran yang salah unsurnya berbeda, dua unsur yang lain sama kecuali dalam satu bunyi saja, seperti عمل، أمل ، طين ، تين , كلب ، قلب. Ketiga kata tersebut memiliki dua kesamaan huruf dan hanya ada satu huruf yang berbeda, huruf yang berbeda ini disebut dengan fonem. Siswa diminta untuk melafalkan beberapa pasangan kata yang memiliki fonem, baik yang terletak diawal, tengah atau akhir. d) Melafalkan kata-kata Siswa diminta untuk melafalkan kata-kata tertentu dengan jelas tujuannya untuk mengukur kemampuan siswa dalam melafalkan huruf tertentu yang terletak diawal, tengah atau akhir kata seperti : (1) استمع جيدا ثم كرّر : قابل – رافَقَ ، انطَلَقَ – انقطَعَ رَجَعَ – ساَحَ ، شَقَّ – قَشَرَ

ISTI’ARAH TAMSTIL Isti’arah Tamstil adalah: susunan kalimat yang digunakan tidak pada tempatnya disebabkan adanya hubungan penyerupaan beserta adanya bukti yang mencegah dari mendatangkan ma’na asli. Contoh: الصيف ضيعت اللبن Pada lafadz diatas diketahui lafadz yang berupa dlomir (ت) itu adalah qorinah yang mencegah untuk memeberikan makna asal, sedang makna asalnya dari lafadz (ضيعت اللبن) itu ialah: أن امرأة كانت متزوجة بشيخ غنى، فطلبت طلاقها منه فى زمن الصيف لضعفه، فطلقها وتزوجت بشاب فقير، I. Pebagian Isti’arah Tamstiliyah: 1. Tahqiqiyah: isti’arah yang meminjam makna yang mana makna itu dapat di indera atau di akal. Contoh yang di indera: رأيت أسدا يرمي Pada lafadz diatas kata (أسد) meminjam makna kepada seseorang laki-laki yang berani dengan adanya qorinah yang berupa lafadz يرمي 2. Takhiiliyah: isti’arah yang meminjam makna yang mana makna itu tidak dapat dipanca indera atau diakal. Contoh: أشرقت حضرتنا أنوارها Makrifat itu telah memancarkan cahayanya Pada lafadz حضرتنا ia meminjam makna dari kata شمس, sedang qorinahnya adalah lafadz أنوارها. Perbedaan tasybih tamstil dengan isti’arah tamtsiliyah Tasbih Tamstil Isti’arah Tamtsil Menyebutkan musabah dan alat tasbihnya Tidak ada kecuali pada susunan kalimat Boleh memakai dua kata dalam kalimatnya Cabang majaz yang mana itu masuk dalam kategori majaz yang sangat baik (baligh) tidak membutuhkan qorinah yang menunjukan kepada makna yang dituju Isti’arah membutuhkan qorinah untuk menolak makna aslinya. Dan membuang musyabah dan adat tasbih namun hanya menyebut musabbah bih nya saja