Entri yang Diunggulkan

alasan mencintai

*Aku bisa jadi diriku sendiri kalau aku sama kamu *senang hanya berdua *Karena kamu bikin aku senang, senang, senang, senang yang ga pernah ...

Senin, 16 April 2012

ARTIKEL

ARTIKEL BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu kegiatan pokok diperguruan tinggi. Karena mahasiswa dituntut untuk menguasai dalam tata cara penulisan karya ilmiah. Karya ilmiah dibagi menjadi dua bagian, yaitu : karya ilmiah resmi dan karya ilmiah yang tidak resmi. Dalam karya ilmiah yang resmi, misalnya : proposal, sekripsi, disertasi, tesis, artikel, dan lain-lain. Saat ini sering kita temukan artikel-artikel yang sulit untuk dipahami. Karena penulisannya tidak disusun sesuai aturan. Jadi, dimustahik apabila banyak artikel yang Cuma berbentuk tulisan artikel. Padahal itu tidaklah tujuan dari penulisan artikel. Didalam makalah ini diterangkan tentang penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan aturan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam makalah ini mempunyai rumusan masalah sebagai berikut : a. Bagaimana cara penulisan artikel yang baik dan benar? b. Dimanakah letak kesalahan-kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam artikel? 1.3 Tujuan Dari penulisan makalah di atas, maka dalammakalah ini mempunyai tujuan diantaranya : a. Mengetahui cara penulisan artikel yang baik dan benar. b. Mengetahui kesalahan-kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam artikel. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Bahasa Tulis Dalam Artikel Ilmiah Bahasa tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa tulis memiliki empat ciri : 1). Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat. 2). Pembentukan kata dilakukan secara sempurna. 3). Kalimat dibentuk dengan setruktur yang lengkap. 4). Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu. Ragam bahasa ilmiah memiliki delapan ciri : 2.1.1. Cendekia Bahasa tulis bersifat cendekia yaitu mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima secara tepat oleh pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Kecendikiaan bahasa juga tampak pada ketepatan dan keseksamaan penggunaan kata. Bentukan kata yang dipilih harus disesuaikan dengan muatan isi yang akan disampaikan. Selain itu, kecendikiaan berhubungan dengan kecermatan memilih kata. Suatu kata dipilih secara cermat apabila kata itu tidak mubazir, tidak rancu, dan bersifat idiomatis. Kerancuan pilihan kata pada umumnya terjadi karena dua struktur kalimat yang digabung menjadi satu. Membetulkannya perlu dikembalikan pada struktur asal. 2.1.2. Lugas Bahasa tulis ilmiah digunakan menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat. Setiap gagasan hendaknya diungkapkan secara langsung sehingga makna yang ditimbulkan oleh pengungkapan itu makna lugas. Penulisan yang bernada sastra cenderung tidak mengungkapkan sesuatu secara langsung. 2.1.3. Jelas Kejelasan gagasan yang disampaikan perlu mendapat perhatian. Gagasan akan mudah dipahami apabila dituangkan dalam bahasa yang jelas dan apabila hubungan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya juga jelas. Ketidakjelasan akan muncul pada kalimat yang sangat panjang. Pada umumnya, kalimat yang panjang boleh digunakan asalkan penulis cermat dalam menyusun kalimat sehingga hubungan antar gagasan diikuti secara jelas. 2.1.4. Bertolak dari gagasan. Bahasa ilmiah digunakan dengan orientasi gagasan. Hal itu berarti penonjolan diarahkan ada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada penulis. Akibatnya, pilihan kalimat yang lebih cocok adalah kalimat pasif. Dan kalimat aktif boleh juga digunakan dalam karangan ilmiah. 2.1.5. Formal Artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk komunikasi ilmiah. Bahasa yang digunakan harus bersifat formal. Tingkat keformalan bahasa dalam artikel ilmiah dapat dilihat pada lapis kosa kata, bentukan kata, dan kalimat. Artikel ilmiah termasuk kategori paparan yang bersifat teknis. Ciri formal bahasa tulis ilmiah juga tampak pada bentukan kata. Bentukan kata yang formal adalah bentukan kata yang lengkap dan utuh. Ciri kedua dalam penulisan kalimat dalam artikel ilmiah adalah ketepatan penggunaan kata fungsi atau kata tugas. Ciri ketiga adalah penalaran dalam isi. 2.1.6. Objektif Bahasa ilmiah harus bersifat objektif. Upaya yang dapat ditempuh adalah menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak pengembangan kalimat dan menggunakan kata dan struktur kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara objektif. Dan sifat objektif juga diwujudkan dalam penggunaan kata. 2.1.7. Ringkas dan Padat Ciri ringkas dalam bahasa tulis ilmiah direalisasikan dengan tidak adanya unsur-unsur bahasa yang tidak diperlukan. Tetapi keringkasan dan kepadatan penggunaan bahasa tulis ilmiah tidak hanya ditandai dengan tidak adanya kata-kata yang berlebihan dalam artikel ilmiah. 2.1.8. Konsisten Unsur bahasa dan ejaan dalam bahasa tulis ilmiah digunakan secara konsisten. Sebuah unsur bahasa, tanda baca, tanda-tanda lain, dan istilah digunakan sesuai dengan kaidah, semua itu digunakan secara konsisten. 2.2. Menggunakan Paragraf yang Benar Banyak ilmuan Indonesia tidak menggunakan paragraf yang efektif. Kegagalan ini terjadi karena tidak dipahaminya fungsi paragraf sebagai pemersatu kalimat yang koheren serta hubungan secara sebab dan akibat menjelaskan suatu kesatuan gagasan atau tema. Kesulitan seseorang memulai menulis juga disebabkan oleh tidak diketahuinya adanya fungsi paragraf pembuka, paragraf panghubung, dan juga paragraf penutup. Keberhasilan penguasaan paragraf sangat ditentukan oleh kerapian penempatan kalimat yang tepat dalam kalimat tersebut. Karena itu, perlu diidentifikasikan kalimat pokok suatu paragraf yang menentukan jiwa keseluruhan paragraf. Hal ini tergantung pada susunan kalimat pendukung paragraf. Kalimat pendukung dapat disusun untuk menjelaskan lebih lanjut kalimat pokok. Kalimat pendukung dapat dibuat bertumpuk menuju suatu simpulan logis yang terpumpun dalam kalimat penyimpul pada akhir paragraf. Menurut Basuki (200:76) artikel ilmiah memiliki tiga persyaratan: (1) kesatuan, (2) kesistematisan dan kelengkapan, dan (3) kepaduan. Suatu paragraf dinyatakan memenuhi syarat keutuhan atau kesatuan apabila paragraf itu hanya mengandung satu gagasan pokok. Persyaratan paragraf kedua adalah kesistematisan dan kelengkapan. Paragraf yang lengkap adalah paragraf yang didukung oleh semua ide penjelas yang diisyaratkan dalam kalimat topik. Ide pokok dan ide-ide penjelas dalam paragraf yang baik ditata secara sistematis. Pengurutan ide dalam suatu paragraf dapat dilakukan dengan cara, yaitu secara alamiah dan secara logis. Urutan alamiah berupa urutan waktu (kronologis) dan ruang (sudut pandang), sedangkan urutan logis berupa urutan klimaks-antiklimaks, sebab-akibat, umum-khusus, pokok-rincian, dikenal tidak dkenal, dan mudah-sulit. Kalimat topik yang mengandung ide pokok harus dikembangkan dan dijelaskan agar dapat terbentuk sebuah paragraf. Perbedaan antara kesatuan dan kepaduan dapat dijelaskan sebagai berikut. Kesatuan lebih banyak berhubungan dengan ide-ide bawahan yang mengandung ide pokok paragraf. Jika semua ide bawahan mengandung ide pokok, maka paragraf dapat dikatakan tidak memiliki kesatuan. Kedua lebih banyak berhubungan dengan penataan dan penyusuna ide bawahan untuk menopang ide pokok paragraf. Jika susunan dan tatanan ide pokok dalam paragraf bersifat runtut dan tertib, maka paragraf dapat dikatakan memiliki kepaduan. Paragraf yang baik juga memiliki jalinan yang erat antar ide, dan antar kalimat pendukungnya. Keterjalinan antar-ide dan antarkalimat dalam paragraf akan memudahkan pembaca memahani ide yang dituangkan penulis. Keterjalinan antar-ide dan antarkalimat dalam paragraf dapat dilakukan dengan menggunakan penanda hubung, baik eksplisit maupun implisit menggunakan kata-kata penanda hubungan atau tanpa kata-kata penghubungan. (Basuki, dan kawan-kawan, 1995). 2.3. Kesalahan Umum Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Artikel Ilmiah Kesalahan umum pemakaian bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah pada umumnya berkaitan dengan (1) kesalahan penalaran, (2) kerancuan, (3) pemborosan, (4) ketidaklengkapan kalimat, (5) kesalahan kalimat pasif, (6) kesalahan ejaan, dan kesalahan pengembangan paragraf. 2.3.1. Kesalahan Penalaran Kesalahan penalaran yang biasa terjadi dibedakan menjadi dua, yaitu kesalahan penalaran intrakalimat dan kesalahan penalaran antarkalimat. Kesalahan penalaran intrakalimat tampak dari tidak adanya hubungan logis antar-elemen/antarbagian kalimat. Kesalahan penalaran antarkalimat tapak pada tidak logisnya hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam membentuk teks. 2.3.2. Kerancuan Kerancuan terjadi karena penerapan dua kaidah atau lebih. Kerancuan dapat dipilah atas kerancuan bentukan kata dan kerancuan kalilmat. Kerancuan bentukan kata terjadi apabila dua kaidah bentukan diterapkan dalam sebuah bentukan kata sebagai berikut. a. Memperlebarkan, dari melebarkan dan memperlebar. b. Mempertinggikan, dari mempertinggi dan mininggikan. c. Dan lain-sebagainya, dari dan lain-lain serta dan sebagainya. Kerancuan kalimat terjadi apabila dua kalimat atau lebih digunakan secara bersamaan dalam sebuah kalimat. Kerancuan ini muncul pada saat penulis kebingungan terhadap kaidah yang dipakai dalam sebuah kalimat. Perhatikan kalimat berikut: a. Dalam penelitian ini membahas efektifitas penggunaan pupuk tablet. b. Bagi peneliti memerlukan kecermatan memilih sampel. Kedua kalimat di atas tergolong rancu. Kedua kalimat tersebut masing-masing dapat dikembangkan pada dua struktur tang benar sebagai berikut: a. Dalam penelitian ini dibahas efektifitas penggunaan pupuk tablet. Penelitian ini membahas efektifitas penggunaan pupuk tablet. b. Bagi peneliti diperlukan kecermatan memilih sampel. Peneliti memerlukan kecermalan memilih sampel. 2.3.3. Pemborosan Pemborosan timbul apabila ada unsur yang tidak berguna dalam penggunaan bahasa. Pengujiannya dapat dilakukan dengan teknik penghilangan. Apabila sebuah unsur dihilangkan dan gagasan yang diungkapkan tidak terganggu, maka unsur tersebut dapat dikatagorikan unsur yang mubazir. Penborosan dapat terjadi pada kata atau kata-kata dan kalimat, bahkan mungkin paragraf. 2.3.4. Ketidaklengkapan Kalimat Sebuah kalimat dikatakan lengkap apabila setidak-tidaknya memiliki pokok dan penjelas atau subjek dan predikat. Contoh: “Dalam penelitian ini tidak menemukan hasil baru yang sangat spektakuler”. Kemungkinan kalimat menjadi tidak lengkap terjadi karena penulis tidak mampu mengendalikan gagasan yang kompleks. 2.3.5. Kesalahan Kalimat Pasif Kesalahan pembentukan kalimat pasif yang sering dilakukan para penulis adalah kesalahan pembentukan kalimat pasif yang berasal dari kalimat aktif intransitif. Kalimat aktif intransitif tidak diubah menjadi kalimat pasif dengan tetap mempertahankannya. Contoh: “Berbagai kesalahan manajer berhasil diungkap melalui penelitian ini”. Pertanyaan yang mudah diajukan adalah siapa yang berhasil. Benarkah yang berhasil adalah berbagai kesalahan manajer? Kalimat di atas berasal dari kalimat berikut, “penelitian ini berhasil mengungkap berbagai kesalahan manajer”. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari uraian makalah ini dapat diambil kesimpulan : 1. Dalam penulisan artikel, harus disusun sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan, yaitu harus secara cendekia, lugas, jelas, bertolak dari gagasan, formal, objektif, serta ringkas dan padat. 2. Artikel ilmiah memiliki tiga persyaratan: (1) kesatuan, (2) kesistematisan dan kelengkapan, dan (3) kepaduan. 3. Keberhasilan pengguasaan paragraf sangat ditentukanoleh kerapian penempatan kalimat yang tepatdalam kalimat tersebut. Selain itu paragraf yang baik juga memilikijalinan yang erat anta ride dan antar kalimat pendukungnya. 3.2 Saran Penulis menyarankan kepada pembaca, apabila dalam pembuatan artikel hendaknya disesuaikan dengan tata cara yang sudah ditentukan. Supaya mempermudah pembaca untuk memahaminya dan membuat pembaca tertarik dan senang saat membaca. DAFTAR PUSTAKA Nur Tanjung, H. bahdin dan H. Ardial. 2005. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (proposal, sekripsi, dan tesis) dan mempersiapkan diri menjadi penulis artikel ilmiah. Jakarta: Kencana Renada Media Group.