Macam-macam mukjizat Secara umum mukjizat dapat digolongkan menjadi dua klasifikasi, yaitu: Mu’ajizat Indrawi (Hissiyyah) Mukjizat jenis ini diderivasikan pada kekuatan yang muncul dari segi fisik yang mengisyaratkan adanya kesaktian seorang nabi. Secara umum dapat diambil contoh adalah mukjizat nabi Musa dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud dapat melunakkan besi serta mukjizat nabi-nabi dari bani Israil yang lain. Bahkan secara umum bila melihat komentar Imam Jalaludin as-Suyuthi, dimana beliau berpendapat bahwa kebanyakan mukjizat yang ditampakkan Allah pada diri para nabi yang diutus kepada bani Israil adalah mukjizat jenis fisik. Beliau menambahkan hal itu dikarenakan atas lemah dan keterbelakangan tingkat intelegensi bani Israil Mukjizat Rasional (‘aqliyah) Mukjizat ini tentunya sesuai dengan namanya lebih banyak ditopang oleh kemampuan intelektual yang rasional. Dalam kasus al-Quran sebagai mukjizat nabi Muhammad atas umatnya dapat dilihat dari segi keajaiban ilmiah yang rasional dan oleh karena itulah mukjizat al-Quran ini bisa abadi sampai hari Qiamat. Jalaludin as-Suyuthi kembali berkomentar, bahwa sebab yang melatarbelakangi diberikannya mukjizat rasional atas umat nabi Muhammad adalah keberadaan mereka yang sudah relatif matang dibidang intelektual. Beliau menambahkan, oleh karena itu al-Quran adalam mukjizat rasional, maka sisi i’jaznya hanya bisa diketahui dengan kemampuan intelektual, lain halnya dengan mukjizat fisik yang bisa diketahui dengan instrument indrawi. Meskipun al-Quran diklasifikasian sebagai mukjizat rasional ini tidak serta merta menafikan mukjizat-mukjizat fisik yang telah dianugrahkan Allah kepadanya untuk memperkuat dakwahnya . 2. ASPEK-ASPEK KEMU’JIZATAN AL-QUR’AN Perkembangan ilmu kalam atau teologi dalam dunia islam membuat pertanyaan seputar kebenaran Allah semakin berkembang, tak terkecuali tentang Al-Qur’an. Dimulai dari perdebatan ulama’ ‘tentang kemakhlukan’ Al-Qur’an lalu juga ditelaah pula tentang aspek-aspek kemu’jizatan Al-Qur’an. Para Ulama’ telah menyebutkan aspek-aspek kemu’jizatan lebih dari sepuluh macam , tapi kami hanya akan menguraikan secara rinci tiga aspek yang menurut kami terpenting. Sedang aspek yang lain hanya akan kami tampilkan beruapa uraian singkat. 2.1. Aspek Kebahasaan Sejarah telah menyaksikan bahwa bangsa Arab pada saat turunnya al-Quran telah mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh bangsa satu pun yang ada di dunia ini, baik sebelum dan sesudah mereka dalam bidang kefashihan bahasa (balaghah). Mereka juga telah meramba jalan yang belum pernah diinjak orang lain dalam kesempurnaan menyampaikan penjelasan (al-bayan), keserasian dalam menyusun kata-kata, serta kelancaran logika Oleh karena bangsa Arab telah mencapai taraf yang begitu jauh dalam bahasa dan seni sastra, karena sebab itulah al-Quran menantang mereka. Padahal mereka memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa dicapai orang lain seperti kemahiran dalam berpuisi, syi’ir atau prosa (natsar), memberikan penjelasan dalam langgam sastra yang tidak sampai oleh selain mereka. Namun walaupun begitu mereka tetap dalam ketidakberdayaan ketika dihadapkan dengan al-Quran Bahkan tantangan tersebut telah termaktub dalam Al-Qur’an:                                       Artinya: Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad Telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka Ketahuilah, Sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu. Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?(Huud: 13-14) Juga dalam surat Al-Baqoroh ayat 23-24, yaitu:      •                     • •   ••      Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Memang ada beberapa pujangga yang mencoba untuk menyaingi Al-Qur’an dengan menyusun kalimat yang mereka anggap hampir sama dengan susunan Al-Qur’an diantaranya Musailammah Al-Kazzab, Tulaihah, Habalah bin Ka’ab dan lain-lain, tetapi mereka malah menjadi tertawaan orang dan mendapat cemooh Karena memang amat nyata berbeda dengan Al-Qur’an, baik susunan kata maupun makna yang terkandung. Diantara contoh kata-kata yang disusun Musailamah Al-Kadzab untuk menandingi surat Al-Kautsar yaitu: إنا أعطيناك الجماهر، فصل لربك وجاهر artinya: Sesungguhnya Kami telah memberimu banyak sekali, maka kerjakanlah sholat dan angkatlah suaramu tinggi-tinggi Pada masa Bani Umayyah dan Abbasiyyah beberapa pujangga besar seperti Ibn al-Muqoffa’, al-Mutanabbi’ dan Abul Ala Al-ma’ari telah berusaha dengan sekuat kemampuannya untuk menyusun kata-kata yang dapat menandingi Al-Qur’an tetapi semua usaha itu gagal belaka dimana pada akhirnya para pujangga besar itu mematahi penanya karena kegagalan mereka Selanjutnya apabila ketidakmampuan bangsa Arab telah terbukti sedangkan mereka jago dalam bidang bahasa dan sastra, maka terbukti pulalah kemukjizatan al-Quran dalam segi bahasa dan sastra dan itu merupakan argumenatasi terhadap mereka maupun terhadap kaum-kaum selain mereka. Sebab dipahami bahwa apabila sebuah pekerjaan tidak bisa dilakukan oleh mereka yang ahli dalam bidangnya tentunya semakin jauh lagi kemustahilan itu bisa dilakukan oleh mereka yang tidak ahli dibidangnya. Tentang ke-fashohah-an Al-qur’an Allah telah berfirman dalam surat az-Zumar ayat 23:  •     •                Artinya: Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Berkaitan dengan masalah pembuktian akan ketidakmampuan bangsa Arab untuk menyaingi al-Quran para ulama banyak memberikan komentar yang mengisyaratkan adanya perbedaan tentang ihwal ketidakmampuan itu bisa terjadi. Secara umum pendapat ulama dalam masalah sebab terjadinya fenomena ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi al-Quran ada dua pendapat, yaitu: a. Muncul dari faktor i’jaz yang terkait dan inheren dalam al-Quran b. Muncul dari luar al-Quran dengan adanya kesengajaan Allah untuk melemahkan orang Arab secara intelektual (sharfah) 2.2. Aspek Ilmiah Pemaknaan kemukjizatan al-Quran dalam segi ilmiyyah adalah dorongan serta stimulasi al-Quran kepada manusia untuk selalu berfikir keras atas dirinya sendiri dan alam semesta yang mengitarinya. Al-Quran memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergulan pemikiran ilmu pengetahuan sebagaimana halnya tidak ditemukan pada kitab-kitab agama lainnya yang malah cenderung restriktif. Sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat berikut:         Artinya : Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,(Al-Baqoroh 219)         Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya). (Al-An’am 65) Pada akhirnya teori ilmu pengetahuan yang telah lulus uji kebenaran ilmiahnya akan selalu koheheren dengan al-Quran. Al-Quran dalam mengemukakan dalil-dalil, argument serta penjelasan ayat-ayat ilmiah, menyebutkan isyarat-isyarat ilmiah yang sebagaiannya baru terungkap pada zaman atom, planet dan penaklukan angkasa luar sekarang ini. Diantaranya adalah : 1. Perkawinan tumbuhan itu ada yang dzati dan ada yang kholti. Yang pertama, ialah tumbuh-tumbuhan yang bunganya telah mengandung organ jantan dan betina. Dan yang kedua ialah tumbuh-tumbuhan yang organ jantannya terpisah dari organ betina, seperti pohon kurma, sehingga perkawinannya melalui perpindahan. Sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Hijr ayat 22 : 2.              “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22) 3. Hukum Toricelly yang ditemukan pada abad XVII M, menyatakan bahwa semakin tinggi suatu tempat, maka semakin rendah tekanan udara yang ada di tempat itu. Hukum ini diisyaratkan Alquran dalam Surat Al-An'am ayat 125 yaitu:                   •             Artinya: Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. yang mengisyaratkan bahwa seseorang yang naik ke langit (ke tempat yang lebih tinggi), maka akan mengalami sesak napas, karena dadanya terasa sempit. Hal ini (rasa sempit di dada), menurut Hukum Torecelly akan terjadi ketika seseorang berada pada ketinggian 12000 feet dari permukaan laut Isyarat-isyarat ilmiah dan yang serupa dengannya yang terdapat dalam Al-Qur’an itu datang dalam konteks petunjuk ilahi, hidayah dan ilahiah. Dan akal manusia boleh mengkaji dan memikirkannya. Qur’an telah datang denagn sesuatu yang lebih besar dari pengetahuan-pengetahuan yang bersifat partial: quran tidak datang untuk menjadi ktab ilmu falak, ilmu kedokteran atau yang lain. Namun quran datang dengan medan kerja adalah jiwa manusia dan kehidupannya, sedang fungsinya untuk membnagun konsep umum tantang kosmos serta hubungannya denag Sang Pencipta . Namun perlu difahami disini bahwa sesungguhnya hakiki Qur’ani adalah hakikat yang final, pasti dan mutlak. Sedang apa yang dicapai penyelidikan manusia, betapapuncanggih alat yang dipakai, adalah hakikat yang tidak pasti. Sebab hakikat-hakikat tersebut terikat dengan aturan eksperimentasi. Maka merupakan kesalahan metodologis ketika menghubungkan hakikat final Qur’an dengan hakikat-hakikat yang tidak final, yakni segala yang dicapai manusia . 2.3. Aspek Pensyari’atan Diantara hal-hal yang mencengangkan akal dan tak mungkin dicari penyebabnya selain bahwa al-Quran adalah wahyu Allah, adalah terkandungnya syari’at paling ideal bagi umat manusia, undang-undang yang paling lurus bagi kehidupan, yang dibawa al-Quran utnuk mengatur kehidupan manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Al-Qur’an disamping memberi aturan pada tiap individu juga mengatur tata cara manusia bergaul dengan sekitarnya. Karena jika manusia dibiarkan tanpa kendali yang membatasi pergaulannya, mengatur hal ikhwal kehidupannya, menjaga hak-hak dan memelihara kehormatannya tentu urusan mereka menjadi kacau . Umat manusia telah mengenal doktrin di sepanjang masa sejarah, berbagai macam doktrin, pandangan, system dan tasyri’ yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat yang utama. Namun tidak satupun daripadanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Al-Qur’an dalam kemu’jizatan tasyri’nya Qur’an merupakan Dustur Tasyri’ paripurna yang menegakkan kehidupan manusia di atas dasar konsep yang paling utama. Dan kemukjizatan tasyri’nya ini bersama dengan kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan bahasanya akan senantiasa eksis untuk selamanya. Dan tidak seorang pun dapat mengingkari bahwa Al-Qur’an telah memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah dunia .

Leave a Reply