Entri yang Diunggulkan

alasan mencintai

*Aku bisa jadi diriku sendiri kalau aku sama kamu *senang hanya berdua *Karena kamu bikin aku senang, senang, senang, senang yang ga pernah ...

Senin, 16 April 2012

Ilmu Balaghah dan Ilmu Nahwu

Ilmu Balaghah dan Ilmu Nahwu Balaghah berasal dari kata بلغ yang seartidenganوصل yaitu sampai. Ilmu Balaghah termasuk pada bidang linguistik teoritik. Posisi ilmu Balaghah dalam bidang garapan linguistik bisa dilihat di bawah ini: علم اللغة علم اللغة النظري علم اللغة التطبيقي القواعد الصرف النحو البلاغة Balaghah merupakan salah salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang menguraikan bentuk-bentuk pengungkapan dilihat dari tujuannya.Ilmu Balaghah merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah kalimat, yaitu mengenai maknanya, susunannya, pengaruh jiwa terhadapnya, serta keindahan dan kejelian pemilihan kata yang sesuai dengan tuntutan. Ilmu Balaghah ini mempunyai tiga bidang kajian, yaitu ilmu bayan, ilmu ma’ani dan ilmu Badi’. Di samping itu, Balaghah adalah ilmu untuk mempelajari kefasihan berbicara. Adapun yang kita pelajari sekarang adalah ilmu Ma’ani , yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana kita mengungkapkan suatu ide atau perasaan ke dalam sebuah kalimat yang sesuai dengan tuntutan keadaan. Bidang itu meliputi: kalam dan jenis-jenisnya, tujuan kalam, washl dan fashl, dzikr dan hadzf, ijaz,dll. Para ulama Balaghah mendefinisikan bahwa ilmu Ma’ani bertujuan membantu agar seseorang dapat berbicara sesuai dengan muqtadhal hal. Agar dapat berbicara sesuai dengan muqtadhal hal maka seseorang itu harus mengetahui bentuk-bentuk kalimat dalam bahasa Arab. Dilihat dari kedudkan ilmu balaghah pada bagan di atas, ilmu Balaghah berada pada qowaid yang sama denga ilmu Nahwu dan Sharaf. Jadi ilmu Balaghah, Nahwu dan Sharaf itu sama-sama membahas tentang kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa Arab. Ilmu Balaghah khususnya dalam kajian ilmu Ma’ani, objek kajian antara ilmu Ma’ani dan ilmu Nahwu hampir sama. Kaidah-kaidah yang berlaku dan digunakan dalam ilmu Nahwu berlaku dan digunakan pula dalam ilmu Ma’ani. Perbedaan keduanya terletak pada wilayahnya. Ilmu Nahwu lebih bersifat mufrod (berdiri sendiri), tanpa terpengaruh oleh faktor lain seperti keadaan kalimat-kalimat di sekitarnya. Sedangkan ilmu Ma’ani lebih bersifat tarkibi (tergantung kepada faktor lain). Hasan Tamam menjelaskan, bahwa tugas ahli nahwu hanya sebatas untuk mengotak-atik kalimah dalam suatu jumlah, tidak sampai melangkah pada jumlah yang lain. Kajian dalam ilmu Ma’ani adalah keadaan kalimat dan bagian-bagiannya. Dalam kaca mata ilmu Nahwu dan dari sisi tarkib kalimat (Jumlah) terdiri dari dua macam, yaitu jumlah ismiyah dan fi’liyah. Selain melihat dari susunan unsur-unsur yang membentuk jumlah ilmu Nahwu juga melihat isi kalimat dari sisi itsbat (positif) dan manfi (Negatif) nya saja. Ahli Nahwu menekankan pentingnya kegramatisan ungkapan, sedangkan ahli Balaghah menelaah pengaruh makna terhadap ungkapan. Sebagian ahli menilai kajian Balaghah dan produknya sebagai puncak kajian ahli bahasa. Artinya ahli Balaghahlah yang memberi makna terhadap struktur yang dihasilkan ahli Nahwu.