EVALUASI PENDIDIKAN: Ciri-ciri Test yang Baik PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS HUMANIORA DAN BUDAYA UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG OKTOBER, 2011 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Belakangan ini kita ketahui bahwa seringkali rancangan pendidikan di berbagai yayasan atau lembaga sudah sangat bagus,di lihat dari segi konsep yang ditawarkan.Karena sudah seharusnya elastisitas dan inovasi pendidikan dimunculkan,dalam kondisi keterpurukan dan krisis eksistensi seperti hari ini.Tetapi konsep yang di tawarkan terkadang tidak berbanding lurus dengan realita,dan itu perlu di rubah dan di sempurnakan.Makanya di butuhkan seperangkat alat untuk menyempurnakan kekurangan tersebut,dan salah satunya adalah evaluasi,dan evaluasipun memiliki banyak komponen, diantaranya adalah tes.Setelah ini akan kita bahas terkait tes serta hal-hal yang berhubungan dengan tes secara detail. B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah kriteria tes yang baik? 2. Apa syarat agar tes bisa dikatakan baik? C. TUJUAN PEMBAHASAN 1. Mengerti dan memahami bagaimana pemilihan tes yang baik,serta hal-hal di sekitar pemilihan tes tersebut. 2. Dapat memilah dan memilih antara tes yang baik dan kurang baik. 3. Semoga dapat di aplikasikan dalam realita,karena mengingat urgensi dari permasalahan tersebut. BAB II PEMBAHASAN A. KRITERIA TEST YANG BAIK Suharsini Arikunto dalam buku Suwarno (2006) menyebutkan bahwa suatu tes dikatakan sebagai alat pengukur yang baik harus memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis. Sedangkan menurut Amir Daien Indrakusuma (1993:27) ada berbagai macam ciri yang harus dipenuhi oleh suatu test yang baik. Dari cirri ini yang dianggap ciri-ciri pokok atau cirri-ciri utama ialah reliabilitas, validitas, dan objektivitas. Berbeda pula pendapat yang dikemukakan oleh Slameto (1988:19). Dia menyatakan bahwa syarat yang harus dipenuhi oleh suatu tes atau evaluasi ada delapan, yakni: sahih (valid), terandalkan (reliable), obyektif, seimbang, membedakan, norma, fair (tidak menjebak), dan praktis. B. RELIABILITAS Menurut Suwarno (2006:119) reliabilitas berasal dari kata reliability, reliable yang artinya dapat dipercaya, berketetapan. Sebuah tes dikatakan memiliki reliabilitas apabila hasil- hasil tes tersebut menunjukkan ketetapan. Artinya jika peserta didik diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada pada urutan yang sama dalam setiap kelompoknya. Amir Daien Indrakusuma (1993:28) menyatakan bahwa suatu tes dapat pula memberikan hasil yang tidak dapat dipercaya (unreliable). Hal ini disebabkan oleh dua macam faktor, yaitu: 1. Situasi pada waktu tes berlangsung. Hal ini mencakup keadaan jasmaniah dan rohaniah dari anak. Misalnya: • Kesehatannya tidak dalam kondisi yang baik. • Menghadapi tes dengan perasaan takut. • Mengerjakan tes dengan gugup dan terburu-buru. • Tidak mengerjakan tes dengan sepenuh hati. 2. Keadaan tes itu sendiri. Hal ini berhubungan dengan kualitas dari soal-soalnya atau panjang tes tersebut. Mengenai kualitas dari soal tes, misalnya: • Pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas maksudnya. • Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ambigu, yaitu pertanyaan yang memungkinkan banyak tafsiran dan banyak jawaban. • Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak dapat dijawab, sebab kurang memberikan keterangan-keterangan yang lengkap. Conny Semiawan Stamboel (1979:65) mengungkapkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi reliabilitas suatu tes, antara lain: 1. Hubungan panjang tes dengan reliabilitas. Makin pendek sebuah tes, makin rendah reliabilitasnya. Namun terkadang tes yang pendek dan kurang reliabel berharga juga untuk tujuan lain tes tertentu, misalnya dalam mengambil keputusan yang cepat. Tingkat reliabilitas yang dikehendaki berbeda, sesuai dengan tujuan tes. 2. Keobyektifan. Keobyektifan tes merupakan faktor yang penting di dalam menjaga reliabilitas tes. 3. Manfaat tes. Tes harus memenuhi syarat kegunaan. Misalnya soal-soal tes yang mempersoalkan masalah-masalah khusus di Jawa Barat, tidak dapat digunakan di Irian Jaya karena tes tersebut tidak memenuhi syarat kegunaan. Dalam hal ini Dr. Oemar Hamalik (1989: 143) menjelaskan tentang kemungkinan cara untuk menguji reliabilitas pengukuran (tes), antara lain: 1. Pengukuran dengan Tes yang Sama (Tes-Retes). Apabila kita ingin mengetahui ketetapan yang diberikan suatu pengukuran tentang karakteristik individu dari hari ke hari – bagaimana kita dapat meramalkan skor / nilai individu untuk minggu yang akan datang berdasarkan apa yang diperbuatnya hari ini – hal ini berarti pengukuran harus dilakukan dalam dua waktu. Dengan demikian kita akan melihat variasi individu dari waktu ke waktu maupun variasi dalam mengerjakan kedua pengukuran tersebut. 2. Parallel Test Form. Parallel form ini terdiri atas dua tes yang disusun dalam bentuk yang berbeda tetapi berdasarkan spesifikasi derajat kesukaran yang seimbang. Dengan demikian murid akan dihadapkan kepada dua jenis (yang paralel) pada saat yang sama. Reliabilitas pengukuran kedua bentuk ini diperoleh dengan jalan mengkorelasikan skor-skor hasil kedua pengukuran tersebut. 3. Subdivided Test. Prosedur ini ditempuh dengan jalan membagi tes ke dalam dua bagian (split half test). Pembagian ini biasanya didasarkan atas item-item bernomor ganjil dan genap. Korelasi antara dua perangkat skor ini akan menghasilkan derajat ketetapan pengukuran. C. PRAKTIKABILITAS Menurut Suwarno (2006:120), sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis. Artinya tes itu mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan atau diawali oleh orang lain dan juga mudah dalam membuat administrasinya. Sedangkan menurut Amir Daien Indrakusuma (1993:47) di dalam bukunya dia mengistilahkan praktikabilitas dengan Ease of administration (mudah dalam pelaksanaan). Dalam menyusun sebuah tes, kita harus memikirkan pula bagaimana pelaksanaannya. Sebagai contoh di bawah ini dilukiskan dua macam cara pelaksanaan tes. 1. Tes A terdiri atas 5 bagian. Untuk tiap bagian disediakan waktu untuk mengerjakan selama 10 menit. Bagian pertama harus dikerjakan lebih dahulu. Setelah 10 menit, dibunyikan tanda, dan semua peserta tes harus pindah mengerjakan bagian kedua, biarpun bagian pertama belum selesai. Setelah 10 menit lagi, dibunyikan tanda, dan semua peserta tes harus mengerjakan bagian ketiga, biarpun bagian kedua belum selesai. Demikian seterusnya, hingga tes selesai. 2. Tes B terdiri atas 5 bagian. Untuk mengerjakan disediakan waktu 50 menit. Cara mengerjakan tidak dibagi-bagi; bagian pertama, kedua dan seterusnya. Juga tidak ditentukan bagian-bagian mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Peserta tes bebas memilih mana yang akan didahulukan dan yang dikerjakan kemudian. Dari kedua contoh di atas, maka tes B lebih mudah pelaksanaannya daripada tes A. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dari beberapa keterangan diatas dan diskusi cultural individu,kami dapat menyimpulkan beberapa hal terkait Tes serta criteria kebaikan tes tersebut.Yang menjadi stressing atau titik tekan adalah bagaimana kita bisa membuat formulasi baru untuk membentuk bahan-bahan dan komponen-evaluasi untuk pendidikan kita.Maka dari itu seyogyanya kita harus tahu bagaimana memilah dan memilih tes yang berkriteria baik,sehingga kita akan bisa memberikan sebuah hal baru di bidang pendidikan,terkhusus dalam evaluasi.Sebagai mahasiswa yang baik kita harus memperbaiki kondisi sekitar kita dengan penuh kesungguhan,karena hanya itu yang harus di lakukan.Tri Darma Perguruan Tinggi:pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.Kesemuanya harus ada pada masinsg-masing individu mahasiswa. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariq. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh DAFTAR PUSTAKA Hamalik, Oemar. 1989. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Penerbit Mandar Maju Indrakusuma, Amir Daien. 1993. Evaluasi Pendidikan. Malang: Penerbit IKIP Malang. Slameto. 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bina Aksara. Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Stamboel, Conny Semiawan. 1979. Prinsip dan Teknik Pengukuran dan Penilaian di Dalam Dunia Pendidikan. Jakarta: Mutiara.

One Response so far.

Leave a Reply