Entri yang Diunggulkan

alasan mencintai

*Aku bisa jadi diriku sendiri kalau aku sama kamu *senang hanya berdua *Karena kamu bikin aku senang, senang, senang, senang yang ga pernah ...

Jumat, 13 April 2012

Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar

Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar Anak didik yang mengalami kesulitan belajar adalah anak didik yang tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan, ataupun gangguan dalam belajar, sehingga menampakkan gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain, guru, ataupun orang tua. Beberapa gejala sebagai indikator adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk berikut: 1. Menunjukkan prestasi belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik di kelas. 2. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah. 3. Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal. Misalnya mengerjakan soal-soal dalam waktu lama baru selesai. 4. Anak didik menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung, dan sebagainya. 5. Anak didik menunjukkan tingkah laku tidak seperti biasannya ditunjukkan kepada orang lain. Dalam hal ini misalnya anak didik menjadi pemurung, pemarah, selalu bingung, selalu sedih, kurang gembira, atau mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainan. 6. Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi nelajar yang rendah. 7. Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis. Dari semua gejala yang tampak itu guru bisa menginterpretasikan atau memprediksi bahwa anak kemungkinan mengalami kesulitan belajar. Atau bisa juga dengan cara lain, yaitu melakukan penyelidikan dengan cara: a) Observasi Observasi adalah suatu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap objek. Sambil melakukan observasi, dilakukan pencatatan terhadap gejala-gejala yang tampak pada diri subjek, kemudian diseleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Data yang dapat diperoleh dengan observasi, misalnya:  Bagaimana sikap anak didik dalam mengikuti pelajaran? Ada gejala-gejala cepat lelah, mudah mengantuk, sukar memusatkan perhatian, catatannya tidak lengkap, malas memperhatikan materi pelajaran yang diberikan.  Bagaimana persiapan psiko-fisiknya dalam menghadapi pelajaran yang akan diberikan? Biasannya anak didik yang malas menerima pelajaran kurang kreatif dan cekatan dalam mempersiapkan segala sesuatunya. b) Interviu Interviu adalah suatu cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain, guru, orang tua atau teman intim anak yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki. Interviu sebagai pendukung yang akurat dari kegiatan observasi. Keakuratan data lebih terjamin bila kegiatan observasi dilanjutkan dengan kegiatan interviu. c) Dokumentasi Dokumentasi adalah suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen, yang berhubungan dengan orang yang diselidiki. Teknik dokumentasi adalah suatu cara yang sering dipakai dalam upaya mencari factor-faktor penyebab yang menyebabkan anak didik mengalami kesulitan belajar melalui dokumen anak didik itu sendiri. Di antara dokumen anak didik yang perlu dicari adalah berhubungan dengan: - Riwayat hidup anak didik. - Prestasi anak didik. - Kumpulan ulangan. - Catatan kesehatan anak didik. - Buku rapor anak didik. - Buku catatan untuk semua mata pelajaran, dan sebagainya. Kemudian bisa juga dengan melihat buku pribadianak didik yang disebut Cumulatove Record. Di dalam buku ini banyak informasi berupa data tentang pribadi anak didik secara mendalam. Buku pribadi anak didik itu biasanya ada pada petugas bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Oleh karenanya, dalam rangka menjaring anak didik yang berkesulitan sebaiknya guru bekerja sama dengan petugas BP, meskipun guru sendiri bisa berperan sebagai petugas BP yang berusaha membantu anak didik keluar dari kesulitan belajar. d) Tes Diagnosis Tes diagnosis dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami anak didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya. Tes diagnosis memerlukan sejumlah soal untuk satu mata pelajaran yang diperkirakan merupakan kesulitan bagi anak didik. Soal-soal tersebut bervariasi dan difokuskan pada kesulitan. Tes ini biasanya dilaksanakan sebelum suatu pelajaran berjalan. Diadakan untuk menjajaki pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai anak didik. Dengan kata lain, sejauh mana tingkat penguasaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan guru, dapat diketahui dengan tes diagnosis.   Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar Dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar tidak bisa diabaikan dengan kegiatan mencari faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Karena itu, mencari sumber-sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, afektif dan efisien. Secara garis besar, langka-langka yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anakdidik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnosis, prognosis, treatment, dan evaluasi. Untuk jelasnya tahapan-tahapan dimaksud sebagai berikut: 1. Pengumpulan Data Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu diadakan pengamatan langsung terhadap objek yang bermasalah. Teknik interviu (wawancara) ataupun teknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data. Baik teknik observasi dan interviu maupun dokumentasi, ketiganya saling melengkapi dalam rangka keakuratan data. Usaha lain yang dapat dilakukan dalam usaha pengumpulan data bisa melalui kegiatan sebagai berikut: a) Kujungan rumah. b) Case study. c) Case history. d) Daftar pribadi. e) Meneliti pekerjaan anak. f) Meneliti tugas kelompok. g) Melaksanakan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi. Dalam pelaksanaannya, semua metode itu tidak meski digunakan bersama-sama, tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak semakin rumit masalahnya, maka semakin banyak kemungkunan metode yang dapat digunakan. Jika masalahnya sederhana, mungkin dengan satu metode sudah cukup untuk menemukan factor apa yang menyebabkan kesulitan belajar anak. Dalam pengumpulan data tidak perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya. Sebab setiap informasi yang diterima belum tentu data. Informasi yang simpang siur justru membingungkan. Oleh karenanya, yang betul adalah carilah banyak informasi melalui sumber yang tepat untuk mendapatkan data selengkap-lengkapnya. Sehingga data yang lengkap itu dapat diolah dengan cermat dan sebaik mungkin. 2. Pengolahan Data Data yang telah terkumpul tidak akan ada artinya jika tidak diolah secara cermat. Factor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik jelas tidak dapat diketahui, karena data yang terrkumpul itu masih mentah, belum dianalisis dengan seksama. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengelolaan data adalah sebagai berikut. a) Identifikasi kasus. b) Membandingkan antar kasus. c) Membandingkan dengan hasil tes. d) Menarik kesimpulan. 3. Diagnosis Diagnosis adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengelolahan data.tentu saja keputusan yang diambil itu setelah di lakukan analisis terhadap data yang diolah itu. Diagonis dapat berupa hal-hal sebagai berikut. a) Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik. b) Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik. c) Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik. Karena diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti gejala-gejalanya atau proses pemeriksan terhadap hal yang dipandang tidak beres, maka agar akurasi keputusan yang diambil tidak keliru tentu saja di perlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi.untuk mendapatkan hasil yang meyakinkan itu sebaiknya minta bantuan tenaga ahli dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Disini bisa disebutkan: 1) Dokter,untuk mengetahui kesehatan anak. 2) Pesikolog,untuk mengetahui tingkat IQ anak. 3) Psikiater, ,untuk mengetahui kejiwaan anak. 4) Sosiolog, ,untuk mengetahui kealinan social yang mungkin di alami anak. 5) Guru kelas, ,untuk mengetahui perkembangan belajar anak selama disekolah. 6) Orang tua anak, ,untuk mengetahui kebiasaan anak di rumah Dalam prakteknya,tidak semua ahli di atas selalu harus digunakan secara bersama-sama dalam setiap proses diagnosis. Bantuan diperlukan tergantikang pada kebutuhan dan tentu saja kemampuan yang tersedia di sekolah 4. Prognosis Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari kesuliatnan belajar. Dalam penyusunan program antuan terhadap anak diidk yang berkesulitan belajar dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan rumus 5W+1H. a) Who : Siapakah yang memberikan bantuan kepada anak? Siapakah yang harus mendapat bantuan? b) What : Materi apa yang diperlukan? Alat bantua apa yang harus dipersiapkan? Pendekatan dan metode apa yang digunakan dalam memberikan bantuan kepada anak? c) When : Kapan pemberian bantuan itu diberikan kepada anak? Bulan yang keberapa? Minggu keberapa? d) Where : Dimana pemebrian itu dilaksanakan? e) Which : Anak didik yang mana diprioritaskan mendapatkan bantuan terlebih dahulu? f) How : Bagaimana bantuan pemberian bantuan itu dilaksanakan? Dengan cara pendekatan individual ataukah pendekatan kelompok? Bentuk treatment yang bagaimana yang mungkin diberikan kepada anak? 5. Treatment Treatment adalah perlakuan. Perlakuan disini dimaksudkan adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkin diberikan adalah: a) Melalui bimbingan belajar individual. b) Melalui bimbingan belajar kelompok. c) Melalui remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu. d) Melalui bimbingan orang tua dirumah. e) Pemberian bimbingan pribadi untuk mangatasi masalah-masalah psikologis. f) Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum. g) Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteriktik setiap mata pelajaran. Siapakah yang mendapat prioritas memberikan treatment? Hal tergantung pada bidang garapan yang telah di programkan. Bila dalam program,ternyata yang harus diatasi terlebih dahulu adalah menyebutkan penyakit kanker yang diderita anak, maka masalah itulah yang harus ditangani. Bantuan dokter dalam maslah ini sangat diperlukan untuk mengobatinya, agar penyakit kanker anak itu dapat disembuhkan dalam waktu yang relative segera.karena masalah itu dianggap berat dan guru bukan ahlinya. Tetapi bila kesulitan belajar itu menyangkut mata pelajaran tertentu,fiqih,kimia atau bahasa arab, misalnya tidak perlu minta bantuan dokter atau sosiolog, guru untuk masing-masing mata pelajaran itupun sudah bisa memberikan bantuan kepada kepada anak didik. Demikianlah, sesuai keahlian seseorang. Ketepatan treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sangat tergantung kepada ketelitian dalam pengumpulan data, pengelolaan data, dan diagnosis. Tapi bisa juga pengumpulan datanya sudah lengkap dan pengelolahan datanya dengan cermat, tetapi diagnosis yang diputuskan keliru, disebabkan kesalahan analisis, maka treatment yang diberikan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajarpun tidak akurat. Oleh karenanya, kecermatan dan ketelitian tingkat tinggi sangat dituntut dalam pengumpulan data, pengelolahan data, dan diagnosis, sehingga pada akhirnya treatment benar-benar mengenai objek dan subjek persoalan. 6. Evaluasi Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, atau gagal sama sekali. Kemungkinan gagal atau berhasil treatment yang telah diberikan kepada anak, dapat dikettahui sampai sejauh mana kebenaran jawaban anak terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam materi tertentu melalui alat evaluasi berupa tes prestasi belajar atau achievement tes. Bila jawaban anak sebagian besar banyak yang salah, itu sebagai pertanda bahwa treatment gagal. Karenanya, perlu pengecekan kembali dengan cara mencari factor-faktor penyebab dari kegagalan itu. Ada kemungkinan data yang terkumpul kurang lengkap, program yang disusun tidak jelas dan tidak tepat, atau diagnosis yang diambil tidak akurat karena kesalahan membaca data, sehingga berdampak langsung pada treatment yang bias. Kemungkinan lain bisa juga terjadi. Datanya lengkap, pengolahan datanya dengan cermat dan teliti akurasi diagnosis meyakinkan, dan prognosis dengan jelas dan sistemetis, tetapi karena treatment yang diberikan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar tidak sungguh-sungguh, terkesan asal-asalan, juga menjadi pangkal penyebab gagalnya usaha mengatasi kesulitan belajar anak. Agar tidak terjadi kesalahan pengertian, disini perlu ditegaskan bahwa pengecekan kembali hanya dilakukan bila terjadi dikegagalan treatment berdasarkan evaluasi, dimana hasil prestasi belajar anak didik masih rendah, dibawah standar. Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagalan treatment secara teoritis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut. a) Re-ceking data (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data). b) Re-diagnosis. c) Re-prognosis. d) Re-treatment. e) Re-evaluasi. Bila treatment gagal harus diulang. Kegagalan treatment yang kedua harus diulangi dengan treatment berikutnya. Begitulah seterusnya sampai benar-benar dapat mengeluarkan anak didik dari kesulitan belajar.