Entri yang Diunggulkan

alasan mencintai

*Aku bisa jadi diriku sendiri kalau aku sama kamu *senang hanya berdua *Karena kamu bikin aku senang, senang, senang, senang yang ga pernah ...

Jumat, 27 April 2012

MAJAZ AQLI

MAJAZ AQLI (المجاز العقلي أو الإسناد المجازي) تعريف: المجاز العقلي : أو يسمى ب الإسناد المجازي هو إسناد الفعل أو ما في معناه إلى عير ما هو له لعلاقة مع قرينة مانعة من إدارة الحقيقة. و الفرق بينه و بين المجاز اللغوي أن " العقلي" في الإسناد و التركيب، و " اللغوي" في الكلمة. Majaz Aqli menyandarkan fi’il (kata kerja) atau yang semakna dengannya kepada yang bukan seharusnya karena ada ‘alaqah (hubungan) serta adanya qarinah yang mencegah dari penyandaran yang sebenarnya . Penyandaran fi’il atau yang semakna dengannya dilakukan kepada sebabnya, waktunya, mashdarnya, mabni fa’il kepada maf’ul, dan mabni maf’ul kepada fa’il. Berikut contoh-contoh ungkapan yang mengandung majaz ‘aqli: A. Penyandaran fi’il kepada sebab Contoh: 1. بنى عمروابن العاص مدينة فصطاط (Amr bin ‘Ash membangun kota fusthat) 2. و يمشي به العكاز في الدير تائبا و قد كان يأبى مشي أشقر أجرد “tongkat yang bermata lembing itu berjalan-jalan di rumah pendeta bersamanya untuk berobat” “padahal semula ia tidak rela melihat larinya kuda blande yang pendek” Pada kedua contoh di atas terdapat ungkapan majaz ‘aqli, yaitu: yang pertama terjadi penisbatan kata kerja "بنى" kepada"عمروا بن العاص" yang bukan sebenarnya. Yang membangun kota Fusthat yang sebenarnya adalah para insinyur dan para pekerja. Namun demikian Amr Bin ‘Ash adalah orang yang memerintahkan pembangunan kota tersebut. ‘Alaqah antara musnad dan musnad ilaihnya adalah sababiyah. Demikian juga penisbatan jalan kepada tongkat termasuk kategori majaz ‘aqli B. Penisbatan kepada waktu Contoh: نهار الزاهد صائم و ليله قائم ( seorang zahid itu siangnya berpuasa, sedangkan malamnya shalat) Pada contoh di atas "صوم"dinisbatkan kepada siang dan shalat malam dinisbatkan pada malam. Ini juga sebenarnya penisbatan yang tidak tepat. Namun demikian, antara hal-hal tersebut terdapat ‘alaqah yaitu penisbatan kepada waktu. C. Penisbatan kepada tempat Contoh: ازدحمت شوارع القاهرة (Jalan-jalan di Kairo padat) D. Penisbatan kepada mashdar Contoh: جد جدك و كد كدك (bersungguh-sungguhlah dan bersusah payahlah) E. Mabni maf’ul disandarkan kepada isim fa’il Contoh: حجابا مستورا ( الإسراء: 45) “Suatu dinding yang tertutup” (QS. Al-Isra’: 45) F. Mabni fa’il kepada isim maf’ul Contoh: إنه كان وعده مأتيا (مريم:61) “Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati” (QS. Maryam : 61)