Entri yang Diunggulkan

alasan mencintai

*Aku bisa jadi diriku sendiri kalau aku sama kamu *senang hanya berdua *Karena kamu bikin aku senang, senang, senang, senang yang ga pernah ...

Jumat, 27 April 2012

BALAGHAH

BALAGHAH 1. Pengertian Balaghah Secara etimologis, berasal dari kata بلغ searti dengan وصل (sampai). Makna “sampai” dalam kata balaghah, bisa ditemukan, misalnya: "بلغ فلان مرادَه" (si fulan sudah sampai pada tujuannya). Secara terminologis, balaghah didefinisikan: sifat bagi kalam (kalimat baligh) dan mutakallim (pembicara baligh), atau Balaghah adalah kesesuaian kalimat yang fasih (tepat, benar) dengan situasi dan kondisi (muqtadhal haal). Kalam atau bahasa yang fasih atau jelas sesuai dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi yang dimaksud disini adalah audiens. Perubahan sikon audiens menuntut pula perubahan susunan bahasa agar “nyambung”, tidak “mis komunikasi”. Nilai balaghah setiap kalam bergantung kepada sejauh mana kalam itu dapat memenuhi tuntutan situasi dan kondisi setelah memperhatikan fasahah-nya (benar secara gramatikal). Menurut pengertian dari sisi kesusastraan ialah "Penonjokan makna dan pengertian kalimat yang jelas, sampai tertanam pada hati pembaca dan pendengarnya (diungkapkan oleh Syaid Ahrnad Aal-Hasymy). Al-Mukaffa menyatakan bahwa Balaghah adalah beberapa makan yang terpancar dari suatu kalimat melalui beberapa macam, sebagian dengan isayarat , berbicara, berpidato, diskusi, surat-menyurat, karangan yang umumnya merupakan "wahyu" pada kalimat indah, ringkas tepat dan lugas. Jika kita perhatikan dari keterangan-keterangan fakar ilmu balaghah dari beberapa regenerasi dapat disimpulkan bahwa : Ilmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya. Ungkapan yang mempunyai nilai sastra tinggi telah lama dimiliki oleh orang orang Arab, babkan sebelum tersebarnya agama Islam, tidak mengherankan dari keindahan bahasa membuat mereka terkesima mendengarkan ayat-ayat suci AI-Quran dan bahasa Hadist. الم تر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة أصلها ثابت وفرعها في الساعي" " (Apakah engkau tidak melihat Allah memberikan suatu perumpamaan dengan kalimat yang baik seperti sebatang pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya menjulang kelangit)". lnilah suatu ayat yang menyatakan kebaradaan dari keindahan dari suatu bahasa. Bila dipandang dari peristilahan linguistik ilmu balaghah ini disebut Ilmu Sematik bahasa Arab. Penamaan sebagai ilmu semantik ini adalah merupakan suatu peristilahan setelah meneliti dan membandingkan disiplin ilmu semantik dan ruang lingkup bahasanya dari segi semantik bahasa Indonesia. Namun jika diperhatikan dari pendapat para fakar yang lebih dominan menyatakan balaghah sebagai bagian dari pembahasan sastra, mereka juga mempunyai alasan yaitu yang diulas dalam balaghah adalah kebanyakan hasil karya sastra atau bahasa yang mengandung nilai-nilai sastra tinggi (bahasa al-Quran dan Hadist). 2. Perbedaan Balaghah dan nahwu Perbedaan balaghah dan nahwu yaitu: Balaghah adalah kesesuaian kalimat yang fasih (tepat, benar) dengan situasi dan kondisi (muqtadhal haal). Kalam atau bahasa yang fasih/jelas sesuai dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi yang dimaksud disini adalah audiens. Perubahan sikon audiens menuntut pula perubahan susunan bahasa agar “nyambung”, tidak “mis komunikasi”. Nilai balaghah setiap kalam bergantung kepada sejauh mana kalam itu dapat memenuhi tuntutan situasi dan kondisi setelah memperhatikan fasahah-nya (benar secara gramatikal). Ilmu Ma'ani adalah pokok-pokok dan dasar-dasar untuk mengetahui tata cara menyesuaikan kalimat kepada kontekstualnya (muqtadhal halnya) sehingga cocok dengan tujuan yang dikehendaki. Perkataan Al-Ma'ani adalah bentuk jamak dari kata makna. Secara terminology adalah hal yang dituju. Menurut pengertian terminology ulama ilmu Bayan ialah menyatakan apa yang tergambar di hati dengan suatu ucapan atau lafazd, atau tujuan yang dimaksudkan oleh lafadz tergambar di dalam hati. Misalnya itu Firman Allah Swt : "وأنا لاندري أشر أريد بمن في الأرض أم أراد بهم ربهم رشدا" )Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka(. Ayat diatas, kalimat sebelum kata أم berbeda bentuknya dengan kalimat sesudah kata أم, karena kalimat yang pertama (sebelum kata أم terdapat fi’il yang Didatangkan dalam bentuk mabni majhul (أريد). Dan kalimat yang kedua (sesudah kata أم) Didatangkan fi’il dalam bentuk mabni ma’lum (أراد). Adapun Haal yang menuntut itu adalah penisbatan baik kepada Allah Swt untuk kalam yang kedua dan mencegah penisbatan buruk kepada Allah swt untuk kalam yang pertama. Faedah ilmu Ma'ani: a) Mengetahui kemukjizatan al-Qur'an melalui aspek kebaikan susunan dan sifatnya, keindahan kalimat, kehalusan bentuk ijaz yang telah diistemawakan oleh Allah dan segala hal yang telah dikandung oleh al-Qur'an itu sendiri. b) Mengetahui rahasia balaghah dan fushahah dalam bahasa Arab yang berupa prosa dan puisi agar dapat mengikutinya dan menyusun sesuai dengan aturannya serta membedakan antara kalimat yang bagus dengan yang bernilai rendah. Sedangkan nahwu, kata kuncinya ialah kalimat (الجملة). Ia secara khusus berbicara tentang jabatan tiap elemen kalimat dan secara umum berbicara tentang aturan mengenai hubungan antar elemen tersebut. Demikianlah, ilmu nahwu telah digunakan untuk menganalisis secara sintaktik bagian-bagian sebuah kalimat serta hubungan antar bagian-bagian tersebut dalam apa yang dalam tradisi klasik kita sebut sebagai hubungan penyandaran (الاسناد). Jadi ilmu nahwu tidaklah hanya berbicara tentang harakat di akhir kata serta i’rabnya, namun ia juga mengatur tentang bagaimana cara yang baik dalam menyusun dan merangkai kalimat.