Entri yang Diunggulkan

alasan mencintai

*Aku bisa jadi diriku sendiri kalau aku sama kamu *senang hanya berdua *Karena kamu bikin aku senang, senang, senang, senang yang ga pernah ...

Senin, 16 April 2012

FASE-FASE PERJALANAN HADIS NABAWI

FASE-FASE PERJALANAN HADIS NABAWI A. Masa Rasulullah Perjalanan hadis di masa Rasul tidak dapat dipisahkan dengan hadis di masa sahabat. Karena di zaman Rasulullah sahabat juga mempunyai peran dalam proses periwayatan. Oleh sebab itu pembahasan fase ini juga akan menyinggung peran sahabat saat itu. Patut diketahui, bahwa hadis pada zaman Rasulullah diterima dan diriwayatkan oleh para sahabat dengan secara oral (syafahiyyan). Saat itu tidak dikenal dikenal periwayatan dengan tulisan. B. Masa Sahabat (Abad Pertama Hingga Awal Abad II) Masa ini sering diistilahkan dengan “masa pertumbuhan” (daur al-Nusyu’). Masa ini berjalan kurang lebih satu abad, mulai dari awal hingga penghujung abad pertama. Pada masa sahabat hadis dapat terjaga dengan sempurna. Menurut Nuruddin al-‘Ithir, ada beberapa faktor yang berperan dalam menjaga dalam keotentikan hadis, di antarannya: 1. Kecerdasan para sahabat dan kejernihan pikiran mereka. Lingkungan masyarakat Arab saat itu cukup kondusif dalam menjaga kejernihan pemikiran mereka. Kondisi ligkungan saat itu masih belum terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran luar. Di samping itu, budaya luar jazirah Arabiyah juga belum banyak berpengaruh dalam kehidupan mereka. Keberadaan Nabi di sekitar mereka juga menjadi alasan mengapa hadis cukup dihafal dan belum begitu perlu untuk ditulis. Mereka berpendapat bahwa jika terjadi sesuatu yang perlu ditanyakan, mereka masih bisa datang dan bertanya pada beliau, Nabi saw. 2. Motivasi agama Kesadaran bahwa kebahagiaan dunia maupun akhirat terdapat dalam kepatuhan manusia terhadap perintah dan ajaran agama. Kesadaran tersebut mendorong para sahabat untuk berusaha semaksimal mungkin menjaga keotentikan hadis daan menyebarkannya. Ditambah lagi dengan dorongan Rasulullah saw. pada sahabat untuk selalu menghafal dan menyampaikan hadis beliau. 3. Kedudukan hadis Banyak ayat maupun hadis yang menerangkan tentang kedudukan hadis dalam Islam. Hadis sebagai sumber kedua menuntut para sahabat untuk selalu berpegang teguh dengan hadis dan mengamalkannya. Keyakinan bahwa Islam tidak dapat dipahami dengan sempurna tanpa intervensi hadis mendorong mereka untuk selalu untuk menjaga dan mengambil hadis. 4. Metode penyampaian hadis Nabi saw adalah seorang pendidik. Dalam menyampaikan hadis kepada para sahabat, beliau memiliki cara yang bijak dan patut untuk ditauladani agar materi tersebut dapat diserap dengan baik dan maksimal oleh para sahabat yang nota benenya sebagai murud-murid beliau. 5. Penulisan hadis Faktor terpenting dalam menjaga hadis adalah pencatatan. C. Masa Tabi’in (Abad II – Abad III) Masa Penyempurnaan Pada masa ini, terdapat banyak perbedaan bila dibandingkan masa sebelumnya. Ilmu hadis pada abad ini sudah mulai digunakan dengan maksimal, sekalipun dalam batas persyaratan lisan dan belum terbukukan secara sempurna. Kaidah-kaidah dan ketentuan penerimaan hadis ini sekalipun sudah mereka gunakan namun keberadaannya masih terdapat dalam hafalan dan belum terbukukan dalam satu buku tersendiri, kecuali apa yang ditulis oleh imam Syafi’I dan erdapat dalam buku ushul fiqih beliau al-risalah. D. Masa Tabi’ Tabi’in (Abad III – Pertengahan Abad IV) Masa ini dikenal dengan istilah masa keemasan, di mana ilmu hadis telah terbukukan sekalipun masih dalam bentuk yang terpisah-pisah. Ilmu hadis sudah terklasifikasikan secara tersendiri dan menjadi satu disiplin ilmu yang independen. Di samping kitab yang berkaitan dengan ilmu hadis, kitab-kitab hadis Nabi saw juga marak ditulis. E. Masa Penulisan Kitab Ilmu Hadis (Pertengahan Abad IV – Abad VII) Pada masa ini kitab-kitab hadis semakin disempurnakan oleh para ulama. Kitab ilmu hadis direfisi kembali dengan model penulisan yang lebih sempurna, yaitu dengan menggabungkan semua materi yang bekaitan dengan ilmu hadis dalam sebuah karya buku tersendiri. Karakter penulisan di abad ini masih terdapat banyak penukilan pendapat ulama-ulama terdahulu, komentar penulisan belum banyak Nampak, jalur sanad masih dicantumkan dan telah terdapat tema pada tiap bahasan. F. Masa Kematangan (Abad VII – Abad X) Penulisan hadis ini berlanjut hingga masuk masa kematangannya pada abad ke-7 hingga abad ke sepuluh. Pada masa ini karya-karya seputar ilmu hadis banyak ditulis dan lebih disederhanakan. Istilah-istilah yang dinilai terasa rumit dijelaskan lebih gamblang, bahasan-bahasan yang pelik lebih dipertegas dan dirinci maksudnya. G. Masa Kevakuman (Abad X – Awal Abad XIV) Diistilahkan dengan masa kevakuman, karena pada masa ini ijtihad dalam masalah-masalah yang baru tidak banyak Nampak, di sisi lain inisiatif untuk berinifasi juga melemah. Karya-karya baru tidak lagi marak dibanding dengan masa-masa sebelumnya. Yang banyak justru terjadi pada usaha-usaha meringkas buku-buku yang sudah mapan, mendiskusikan masalah-masalah seputar teks, dan ungkapan pada buku tertentu tanpa banyak mengkritsi substansi dari masalah yang ada. Merubah teks menjadi nadzom dalam bait-bait juga banyak nampak pada masa ini. H. Masa Kebangkitan (Masa Kita Sekarang) Pada masa kita sekarang banyak kelompok yang berusaha untuk memadamkan cahaya hadis nabawi. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan keragu-raguan seputar hadis, menolak hadis-hadis yang sudah mapan dan jelas keshahihannya, bahkan menuduh sebagian sahabat dengan tuduhan telah memanipulasi hadis Nabi saw tanpa dasar yang ilmiah, namun hanya sebatas mengikuti hawa nafsu belaka. Kondisi semacam ini memicu semangat ulama untuk bangkit meluruskan kritikan-kritikan tersebut dan membantah tuduhan-tuduhan yang sama sekali tidak berdasar pada dalil yang ilmiah. Demikianlah fase-fase perjalanan hadis dan ulum al-Hadis yang pada dasarnya memang tidak bisa dipisahkan dari hadis itu sendiri tatkala kita ingin mengetahui kondisi dari sebuah hadis. Demikian pula usaha-usaha para ulama yang telah dilakukan demi untuk menjaga orsinalitas hadis nabawi dari orang-orang atau kelompok-kelompok yang memiliki niat busuk terhadap sumber hukum kedua dalam Islam.